Pemerintah Cina Larang Jual Beli Organ Manusia

Pemerintah Cina Larang Jual Beli Organ Manusia

- detikNews
Rabu, 02 Mei 2007 12:24 WIB
Beijing - Pemerintah Cina secara resmi melarang perdagangan organ manusia. Larangan ini dikeluarkan di tengah terus berlangsungnya tudingan internasional bahwa negeri itu banyak terlibat dalam pemungutan bagian-bagian tubuh dari para tahanan yang dihukum mati.Regulasi yang dikeluarkan Dewan Negara atau kabinet Cina itu melarang semua organisasi dan individu memperjualbelikan organ manusia dalam bentuk apapun. Demikian diberitakan kantor berita resmi Cina, Xinhua dan dilansir AFP, Rabu (2/5/2007).Dengan aturan baru ini, setiap dokter yang diketahui terlibat dalam aktivitas tersebut akan dicabut izin prakteknya. Sementara klinik atau rumah sakit yang terlibat dalam perdagangan organ manusia akan dilarang melakukan operasi transplantasi organ selama setidaknya tiga tahun.Dalam regulasi ini juga diberlakukan adanya denda yang besarnya antara 8 hingga 10 kali lipat nilai transaksi terlarang tersebut. Pejabat-pejabat pemerintah yang terbukti melakukan perdagangan organ manusia juga akan dipecat dari jabatannya.Kelompok HAM internasional telah sejak lama menuduh Cina membiarkan praktek pemungutan organ-organ dari tahanan yang dieksekusi untuk transplantasi tanpa persetujuan tahanan tersebut ataupun keluarganya.Rumah sakit juga kerap dituding mengambil secara diam-diam organ milik korban kecelakaan lalulintas dan pasien lainnya yang meninggal tanpa memberitahu anggota keluarga pasien.Pemerintah Cina berulang kali membantah tudingan tersebut. Menurutnya, kebanyakan organ disumbangkan secara sukarela oleh warga biasa dan para penjahat yang telah memberikan persetujuan sebelum dihukum mati.Menurut Xinhua, pasien-pasien luar negeri banyak yang mendatangi Cina karena di negeri itu terdapat lebih banyak organ dibandingkan negara lain dan biaya operasi yang lebih murah.Cina merupakan negara kedua di dunia yang paling banyak melakukan transplantasi organ setelah Amerika Serikat. Setiap tahunnya sekitar 5 ribu operasi itu dilakukan di Cina. (ita/nrl)


Berita Terkait