Kisah Carti Hindari Mucikari dan Mencari Pekerjaan Halal
Selasa, 01 Mei 2007 15:28 WIB
Jakarta -
Tangan mungilnya terlihat terampil menyelesaikan pekerjaannya, merapikan potongan-potongan baju yang telah selesai dijahit. Sesekali ia sempatkan bercanda dengan rekan-rekannya yang berjumlah 30-an orang. Wajahnya menyiratkan usianya yang masih berbilang muda, 16 tahun. "Senang kerja begini. Kayak main-main saja, dapat duit," ujar Cartini dengan centil di sela-sela pekerjaannya di pabrik konveksi di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (30/4/2007). Sama halnya dengan Cartini, Maya (18) teman sekampung Carti menyatakan hal serupa. Ia merasa nyaman dengan pekerjaan baru yang baru dijalani dua hari lalu. "Kami berempat datang dari Indramayu. Ini Adel dan ini Sinta. Kami senang bisa kerja di sini," kata Maya memperkenalkan kedua rekannya yang masih belia, 16 dan 15 tahun. Empat sekawan ini bekerja di pabrik PT Soon Chang dengan bantuan dari pihak Kepolisian Sektor Metro Cilincing. Jika tidak, keempat gadis belia itu mungkin bernasib lain: sebagai pekerja seks di lokalisasi Sambung Giri, Bangka-Belitung. "Keempatnya kami amankan dari perilaku jahat mucikari Dahuri (38) dan Ningsih (55), yang akan menjual ke Sumatera," jelas Kapolsektro Cilincing Kompol Yossy Runtukahu pada kesempatan terpisah. Keberutungan Carti dan kawan-kawan, diawali dengan keberanian Carti. Saat berada dalam penyekapan di rumah Dahuri, Jl. Sungai Landak Cakung Drain Rt 8/11 Cilincing, ia diberitahu oleh Ningsih, bahwa dirinya bersama ketiga rekannya akan dibawa ke Bangka Belitung sebagai pekerja kafe malam. Tugasnya menemani tamu minum hingga di tempat tidur. "Saya kaget. Kalau sampai di sana, harus minum obat KB. Saya nggak mau. Memang sih waktu di Indramayu, saya kerja di tempat begituan, tapi hanya menemani minum. Saya kabur," ucap Carti diamini teman-temannya. Carti kabur dengan berpura-pura mandi. Setelah keadaan rumah dinilai sepi, ia loncat dari dinding kamar mandi dan mencari kantor polisi terdekat. Dalam pemeriksaan polisi, ia menceritakan semua yang menimpa teman-temannya. Dari keterangan Carti, polisi memburu hingga kota asal mereka datang. "Kami usut hingga ke Indramayu. Kami tangkap Karti (30) yang bertugas merekrut calon pekerja seks di desa-desa. Ini adalah sindikat yang kuat, jaringannya hingga ke lokalisasi di Jakarta dan Sumatera," tambah Yossy. Selanjutnya, Carti memberikan alasan lugas. Ia mengaku tertarik meninggalkan desanya karena sudah tidak kuat terhadap kemiskinan yag merubungi keluarganya yang hanya sebagai buruh tani miskin. Empat sekawan itu tertarik dengan gaji yang ditawarkan, sebesar Rp 1,5 juta perbulan. "Bapak ibu hanya tani pas-pasan. Duit nggak ada. Ditawari begitu, siapa yang tidak ingin," ceplos Carti lugu dengan logat khas Indramayu yang masih sangat kental. Toh, jalan pintas seperti yang dijanjikan sebagai hostes ditampik keempatnya. Mereka lebih memilih bekerja layaknya gadis desa seperti pada umumnya, jadi buruh pabrik. "Kami hanya putus asa. Di desa nggak ada pekerjaan. Kami ingin pekerjaan normal saja," papar dia sambil membetulkan letak duduknya. Keempat sekawan itu menegaskan warna lain. Bahwa stereotipe gadis Indramayu yang dikenal mudah 'menjual diri', sedikit meleset. Selain itu, akses lapangan kerja yang lebih luas merupakan solusi menekan jejaring prostitusi yang terus merajalela. "Nyatanya mereka semangat bekerja. Rajin. Nggak malas-malasan," seloroh Surya Kencana, pengawas bagian personalia PT Soon Chang, di depan keempat pekerjanya itu.
(Ari/asy)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































