Reshuffle Mei
SBY Harus Buang Partai Kecil
Minggu, 29 Apr 2007 13:36 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambany Yudhoyono (SBY) harus memperhatikan 3 partai besar yakni Partai Golkar, Partai Demokrat dan PPP sebagai basis utama untuk mereshuffle kabinetnya. Partai kecil lainnya seperti PKS atau PBB, dibuang saja karena tak penting."Presiden harus tetap memperhitungkan orang-orang Golkar sebagai basis kekuatan utama, juga Partai Demokrat. Jika mau aman juga dengan PPP," kata Direktur Sugeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit di sela-sela acara Forum Pergerakan Nusantara di Hotel Bumikarsa, Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (29/4/2007).Sukardi mengatakan, meskipun Partai Golkar tidak mengajukan sejumlah nama untuk mengisi posisi di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) bukan berarti Presiden SBY tidak memperhitungkan partai ini. Justru, katanya, sikap politik Partai Golkar yang demikian bukan merupakan kelemahan tapi kekuatan Partai Golkar itu sendiri. "Justru partai yang minta-minta itu partai yang lemah. Jadi sebaiknya yang lain tidak perlu lagi dalam Kabinet Indonesia bersatu. Buang saja, seperti PKS, PBB dan partai yang lain," katanya. Menurut Sukardi, dengan komposisi 3 partai itu plus orang-orang profesional dalam tubuh Kabinet Indonesia Bersatu sudah cukup untuk menyokong pemerintahan di bawah kepemimpinan SBY. Sebab, pemerintah Indonesia lemah bukan hanya pada sisi leadership, tapi juga dalam kabinet. "Untuk mengisi kelemahan leadership SBY perlu dikuatkan oleh kabinet yang loyal," katanya.Saat ini, Presiden SBY seperti terkena Stockholm Syndrome. Sindrom itu adalah seseorang tersandera oleh sesuatu. Karena yang menyandera itu sudah lama, seakan-akan yang menyandera ini memberikan banyak kebaikan terhadap yang sandera. Sehingga yang disandera ini merasa tak tersandera. "Presiden awalnya merasa tersandera oleh partai tapi lama-lama justru Presiden menilai partai-partai itu baik hati," ujarnya.
(mar/nrl)











































