K3 Dianggap Beban, Pengusaha dan Disnaker Kongkalikong

K3 Dianggap Beban, Pengusaha dan Disnaker Kongkalikong

- detikNews
Sabtu, 28 Apr 2007 14:48 WIB
Jakarta - Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dinilai sebagai beban oleh pengusaha di Indonesia. Alhasil, pengusaha pun memilih kongkalikong dengan pihak Disnaker.Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Sjukur Sarto mengatakan, pengusaha mengabaikan K3 karena enggan mengeluarkan biaya tambahan."Banyak perusahaan yang tidak menyediakan alat-alat keselamatan seperti helm dan pengaman untuk pekerjanya. Sering kali pekerjanya harus membeli sendiri," tutur Sjukur dalam dialog tentang "Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Tanggung Jawab Siapa?" terkait Hari K3 Sedunia di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (28/4/2007).Dia juga mengatakan, pengawasan Disnaker terhadap perusahaan masih sangat lemah. Sering kali malah tercipta praktik kongkalikong antara Disnaker di daerah dengan pengusaha. "Untuk survei, Disnaker kebanyakan tidak ke lapangan, tapi cukup di kantor saja. Kalau begini bagaimana bisa tahu kondisi lapangan," cetusnya.Dibeberkan Sjukur, pada 2006 lalu terjadi sekitar 93 ribu kecelakaan kerja di Indonesia, terutama di bidang industri. "Data ini tidak valid yang terjadi di lapangan masih lebih besar," kata dia. Sebab tidak semua kasus dilaporkan, seringkali saat laporan ke Disnaker ada biaya yang harus dikeluarkan, sehingga pekerja malas melapor."Kalau pengusaha tidak mau menyediakan alat, kecelakaan pasti akan terjadi terus," katanya.Sekadar diketahui International Labour Organization (ILO) memperkirakan di seluruh belahan dunia ada sekitar 6.000 pekerja yang kehilangan nyawa setiap harinya akibat kecelakaan, luka-luka dan penyakit akibat kerja. Sedangkan setiap tahunnya mencapai 2,7 juta pekerja. Selain itu, setiap tahunnya sebanyak 270 juta pekerja menderita luka-luka parah dan 160 juta lainnya mengalami penyakit jangka panjang atau pun pendek yang terkait dengan pekerjaan mereka. (umi/mar)


Berita Terkait