SBY Harus Copot 11 Menterinya
Jumat, 27 Apr 2007 14:44 WIB
Jakarta - Rencana reshuffle dinilai tidak akan berarti jika Presiden SBY masih mengakomodir keinginan parpol-parpol. SBY harus mengambil keputusan tegas. Minimal dia harus mencopot sepertiga menterinya."Saya mengusulkan minimal sepertiga. Kalau dijumlah ya 11 orang, kalau hanya 3-4 orang ya tidak akan ada artinya, tetap saja sama," kata pengamat politik Sukardi Rinakit dalam diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (27/4/2007).Menurut dia, presiden harus berani mereshuffle orang-orang yang dinilai gagal tanpa mempertimbangkan desakan dan intimidasi dari parpol. Karena jika presiden masih terpengaruh hal itu, reshuffle hanya menambah persoalan baru."Kalau yang dipilih orang-orang yang tidak profesional dan cenderung mendapat tekanan dari partai, ya tidak akan efektif lagi," imbuhnya.Sementara pengamat ekonomi dari INDEF, Aviliani, menilai dunia bisnis tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk reshuffle. Ada atau tidak ada reshuffle, dunia bisnis tetap berjalan.Namun jika SBY salah memilih orang karena tekanan politik parpol tertentu, maka akan semakin menambah musuh politik SBY."Di bisnis don't care dengan hal itu. Jadi menurut saya tidak perlu reshuffle, karena kalau reshuffle tidak mengakomodir orang-orang partai, yang tidak dipilih akan menjadi musuhnya," ujar dia.Sementara itu anggota DPR dari Sulawesi Tenggara Ikhan Leulembah menilai reshuffle tetap diperlukan. Namun SBY harus tetap mempertimbangkan unsur-unsur daerah. Karena tanpa itu, reshuffle hanya akan menjadi komoditas dan perbincangan elit di Jakarta."Kalau tidak mempertimbangkan daerah, tidak ada implikasi di masyarakat. Kita butuh menteri-menteri yang punya kepedulian tinggi terhadap pembangunan di daerah," tutur Ikhsan.
(umi/sss)











































