Kisah Warga Perum TAS di Jakarta

Kisah Warga Perum TAS di Jakarta

- detikNews
Jumat, 27 Apr 2007 00:44 WIB
Jakarta - Hampir dua pekan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (TAS) I yang menjadi korban lumpur Lapindo berada di Jakarta. Berbagai kejadian mereka alami, termasuk terganggu pasangan yang berpacaran di Tugu Proklamasi, tempat mereka menginap.Sejak awal, perjuangan perwakilan warga Perum TAS I untuk datang ke Jakarta memang berat. Niat mereka berdemonstrasi menuntut pembayaran kompensasi cash and carry dihalangi aparat Polres Sidoarjo yang melakukan razia di beberapa stasiun kereta api.Ratusan warga yang semula akan berangkat akhirnya menyusut tinggal sekitar 50an orang saja.Sesampainya di Jakarta, setelah sepekan berunjuk rasa dengan mendatangi Istana Merdeka, Kantor Menko Kesra dan beberapa kantor pemerintah lainnya setiap hari, tidak ada satupun pejabat yang sudi menerima mereka.Namun hal itu tidak membuat mereka putus asa. Meski beberapa warga memutuskan pulang ke Sidoarjo, perwakilan warga yang tersisa tetap gigih menyuarakan tuntutannya.Secercah harapan datang ketika Senin 23 April malam Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menemui warga di Tugu Proklamasi. Bang Yos berjanji akan memfasilitasi warga Perum TAS I untuk menemui pejabat pemerintah, namun Bang Yos juga meminta warga untuk pulang dengan alasan kondisi wilayah ibukota yang sedang dalam status KLB Demam Berdarah.Akhirnya, Selasa 24 April, janji Sutiyoso tersebut diwujudkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla berkenan menerima 5 perwakilan warga di Istana Wapres. Dalam pertemuan, disepakati formula penyelesaian baru tuntutan warga, dengan mempercepat pembayaran kompensasi dalam jangka waktu satu tahun dari yang semula dua tahun."Sudah ada kemajuan dari pertemuan tadi. Pemerintah berjanji mempercepat pembayaran ganti rugi," kata juru bicara perwakilan warga Perum TAS I Sumitro.Usai pertemuan dengan wapres, 5 perwakilan warga tersebut diundang bertemu dengan Presiden SBY. Presiden menyatakan selama ini pemerintah tidak berniat menyusahkan warga korban lumpur dan akan segera meemnuhi kesepakatan yang sudah dicapai.Meski kecewa karena tuntutan awal tidak dipenuhi, sebagian warga yang datang ke Jakarta mengaku bisa menerima. Mereka pun memutuskan pulang ke Sidoarjo pada Kamis malam 26 April.Dituturkan Sumitro, selama berada di Jakarta berbagai kejadian dialaminya. Namun hanya satu yang menggangu warga yang menginap di Tugu proklamasi. Banyak pasangan yang berpacaran di 'hotel' Tugu Proklamasi tempat mereka menginap."Yang paling mengganggu, ya, itu, banyak yang pacaran. Lha wong tempatnya kan gelap begitu," kata Sumitro dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (26/4/2007).Sumitro yang memilih untuk tidak pulang dan kini berada di rumah salah satu kerabatnya di Tangerang, Banten hanya tertawa lepas ketika ditanya apakah yang pasangan sedang berpacaran tidak risih ditunggui puluhan warga Perum TAS I.Meski begitu, sambutan dan pelayanan yang diberikan oleh warga yang simpati, aparat dan pemerintah DKI Jakarta dirasakannya sangat baik. Banyak bantuan berupa makanan yang terus berdatangan selama warga menginap di Tugu Proklamasi."Sambutan di sini sangat baik, dari Polda Metro, Polres, aparat Pemda maupun warga Jakarta. Keamanan yang dilakukan polisi ternyata sangat persuasif, yang tadinya saya kira represif," tuturnya.Pelayanan yang baik itu, berakhir manis karena warga Perum TAS I yang hendak mudik difasilitasi oleh Polres Jakarta Pusat dengan menyediakan bus."Ada dua bus yang disediakan oleh Polres Jakarta Pusat. Sudah berangkat tadi sekitar pukul 22.00 WIB," pungkas Sumitro. (nwk/bal)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads