Boris Yeltsin Bawa Kesedihan Soal Demokrasi yang Memudar
Kamis, 26 Apr 2007 14:39 WIB
Moskow - Boris Yeltsin meninggal dengan hati hancur dan sedih. Gara-garanya, cita-cita demokrasi yang berusaha dipeliharanya perlahan-lahan dipadamkan oleh pengganti yang dipilihnya sendiri, Vladimir Putin.Demikian diungkapkan sejumlah teman dan bekas kolega Yeltsin seperti diberitakan harian Inggris, Telegraph, Kamis (26/4/2007).Selama tahun-tahun terakhir kehidupan Yeltsin, presiden terpilih pertama Rusia itu tak pernah berani mengkritik Putin di depan publik. Sikap itu tampaknya merupakan bagian dari kesepakatan untuk melindungi anggota-anggota keluarganya dari tuntutan hukum.Namun diam-diam, Yeltsin sangat terluka melihat warisan demokrasinya perlahan memudar. Demikian diungkapkan Yegor Gaidar, mantan Perdana Menteri (PM) Rusia semasa kepemimpinan Yeltsin."Saya sering menjumpai dia setelah pensiunnya," kata Gaidar. "Dia senang dengan kemakmuran ekonomi Rusia namun sangat sedih atas apa yang terjadi di bidang politik," imbuh pria itu.Teman-teman Yeltsin lainnya mengatakan dia menyayangkan media Rusia yang kian berada di bawah kendali pemerintah Rusia. Padahal semasa pemerintahan Yeltsin, dirinya mengizinkan adanya kebebasan pers. Bahkan Yeltsin mengabaikan desakan bawahannya untuk mengendalikan media ketika kritikan mereka mengenai kepemimpinannya kian meningkat pada pertengahan tahun 1990-an."Dia sangat mentolerir kritikan," cetus Alexander Volin, mantan pembantu Yeltsin.Yeltsin dimakamkan Rabu 25 April sore waktu setempat di pemakaman Novodevichy, Moskwo. Di sana juga dimakamkan mantan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev, Raisa Gorbacheva, dan penulis skenario ternama di era Uni Soviet, Anton Chekhov.Sekitar 35.000 pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Yeltsin. Para pemimpin dunia juga hadir, termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton dan George HW Bush, ayah Presiden George W Bush.
(ita/nrl)











































