2.000-an Korban Lapindo Ancam Lumpuhkan Bandara Juanda
Kamis, 26 Apr 2007 09:50 WIB
Sidoarjo -
Korban lumpur Lapindo di Porong tampaknya cukup lihai mengatur strategi demonstrasi. Sebelumnya mereka sangat merahasiakan rencana demo dengan menyamarkan sebagai aksi mengemis bersama. Informasi yang beredar, 2.000-an korban lumpur dari empat desa, Jatirejo, Siring, Kedungbendo dan Rekokenongo ini usai demo di Pendopo Kabupaten dan DPRD Sidoarjo akan bergeser ke perbatasan Surabaya-Sidoarjo di Bundaran Waru dan pintu masuk Bandara Juanda di Aloha. Hingga pukul 09.15 WIB, Kamis (26/4/2007), konvoi korban lumpur yang mengendarai ratusan motor dan puluhan truk itu tiba di Gedung DPRD Sidoarjo Jl Sultan Agung Sidoarjo. Terlihat tiga orang melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur dan membawa keranda mayat sebagai simbol matinya nurani pemerintah dan Lapindo. Mereka akan melakukan aksi pemblokiran hingga tuntutannya dipenuhi oleh pemerintah dan Lapindo Brantas Inc. "Kabarnya kalau tidak ada kesepakatan di dewan, massa akan menginap kalau tidak di alun-alun, di Bundaran Waru," kata Kasatlantas Polres Sidoarjo AKP Andi Yulianto kepada wartawan. Ny Tuti, warga Siring RT 07 RW 2, mengaku juga geram lambannya pemberian ganti rugi. "Kita sudah sengsara. Pokoknya semua harus mendapat ganti rugi tanpa terkecuali yang Petok D dan Letter C," Ny Tuti saat ikut demo.Ny Tuti yang sekarang menyewa rumah di Perumahan Magersari Sidoarjo ini mengaku jika dihitung dirinya akan mendapatkan ganti rugi senilai Rp 600 juta dengan 10 meter x 38 meter. "Rumah saya petok D juga harus dapat. Kalau tidak kita akan demo terus sampai kapan pun," tegas Ny Tuti yang suaminya saat ini sedang sakit kakinya itu.
(gik/nrl)










































