Awas, Mafia Minyak di Pertamina
Kamis, 26 Apr 2007 08:26 WIB
Jakarta - Sudah menjadi rahasia umum di Pertamina, ada makelar yang mendapatkan keuntungan dari bisnis impor minyak dan BBM. Pejabat pemerintah dan Pertamina tahu betul sepak terjang 'mafia' ini. Mereka telah menguras keuangan negara selama bertahun-tahun hingga triliunan rupiah.Kalangan DPR pun pernah melontarkan akrobat 'bisnis haram' dari 'mafia' ini. Adalah anggota Komisi VII DPR Alvin Lie, ketika rapat antara Komisi VII DPR dengan Pertamina melontarkan nama berinisial "MR" sebagai orang yang bertanggung jawab atas bisnis yang merugikan negara ini. "Orang tahu semua siapa mister MR ini. Dia menguasai bisnis Pertamina dan tengah mengumpulkan dana untuk pemilu 2009. Dia dekat dengan tokoh politik nasional," kata Alvin, yang sempat membuat Dirut Pertamina Ari Soemarno terhenyak saat rapat itu. Namun sayangnya, Alvin tak menyebutkan siapa sebenarnya "MR" ini. Menanggapi pertanyaan Alvin itu, Ari pun membantah kenal dengan MR ini. "Saya tidak tahu maksudnya mister MR itu siapa," sanggah Ari kepada wartawan. Tapi Alvin kembali menjawab, sangat tidak mungkin Ari tidak tahu siapa sebenarnya MR ini. Walau begitu, Alvin hingga kini, belum mengungkapkan siapa sebenarnya orang yang masih misterius itu.Namun berdasarkan pengakuan sumber detikcom, Kamis (26/4/2007), MR adalah anak dari salah seorang mantan Dirut Pertamina. Dia dikenal cukup dekat sejumlah pejabat tinggi negara di saat masa Orde Baru dan pejabat pemerintahaan saat ini. MR juga sangat dekat dengan putra bungsu mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Mereka berdua sangat akrab karena menyukai dunia balap mobil.Lalu bagaimana bisnis haram ini dilakukan? Seorang mantan pejabat Pertamina bercerita, bisnis para makelar ini sangat licin dan kuat. "Sampai sekarang dia masih ada dan berada di Jakarta dan Singapura," kata mantan pejabat itu, Kamis (26/4/2007).Dia mengaku cukup kesal dengan ulah makelar ini yang merugikan negara sangat besar. "Bisa dibayangkan jika mereka mengambil kentungan US$ 1-2 per barel, berapa keuntungan yang mereka dapatkan? Dan ini berlangsung selama bertahun-tahun," kata dia.Misalkan saja Pertamina mengimpor minyak setiap bulannya mencapai 10 juta barel. Bisa dibayangkan keuntungan yang didapat setiap bulannya. "Berapa triliun mereka keruk dari Pertamina. Impor sebesar itu dalam kondisi normal," ujarnya.Dia juga merasa heran, kenapa makelar-makelar seperti ini tidak ditumpas oleh aparat penegak hukum. Dia justru melihat penegak hukum hanya mengusut kasus Pertamina yang kecil-kecil saja. "Saya kecewa. Saya tantang penegak hukum mengusut kasus ini," tantangnya.
(mar/asy)











































