Kisah Dua Wanita Penjaja Seks
Selasa, 24 Apr 2007 14:38 WIB
Yangon - Wanita ini baru berumur 13 tahun ketika ibunya membujuk dia menjual keperawanannya demi mengeluarkan keluarga dari lembah kemiskinan. Kini, dua dekade telah berlalu dan dia masih belum berhasil mengangkat keluarganya dari kemiskinan.Padahal perempuan Myanmar bernama Sandar itu telah bertahun-tahun menggeluti dunia pelacuran yang dianggapnya mendatangkan uang berlimpah-limpah. Sandar tak jera meski dirinya telah berulang kali ditangkap karena melakukan praktek prostitusi. Dia pun pernah dipenjara dua kali.Wanita yang kini berusia 33 tahun itu pernah menyuap, bahkan ngeseks dengan polisi supaya bisa bebas dari penjara.Temannya, Sei Sar Nyo, bahkan pernah dipukuli pelanggannya karena meminta mereka memakai kondom saat akan berhubungan intim. Keluarga Sei Sar Nyo kini bahkan tidak pernah lagi mau berbicara dengannya. Wanita berumur 25 tahun itu juga kerap dilecehkan masyarakat Myanmar yang konservatif.Kedua pekerja seks itu hanya tertawa ketika ditanya adakah pekerjaan lain yang mereka inginkan. Menurut mereka, tak ada pekerjaan selain pelacur yang bisa mendatangkan banyak uang dengan mudah."Saya tidak tertarik dengan usaha lain," kata Sei Sar Nyo seperti dikutip kantor berita AFP, Selasa (24/4/2007)."Jika saya bekerja di satu perusahaan, saya akan mendapatkan 30 ribu kyat (sekitar US$ 24) dalam sebulan. Dengan pekerjaan ini, saya mendapatkan sebesar itu dalam semalam," tuturnya.Kedua penjaja seks itu berasal dari latar belakang yang berbeda, namun sama-sama bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga mereka yang miskin. Keduanya punya profesi ganda.Di siang hari mereka bekerja untuk badan amal internasional Medecins Sans Frontieres (MSF). Namun di malam hari, keduanya menjajakan tubuh mereka di rumah bordil, restoran dan bar-bar karaoke.Diungkapkan Sandar, pertama kali menjadi pelacur, dirinya merasa trauma dan kesakitan. Namun dia bertekad meneruskannya demi keluarga.Sei Sar Nyo, yang berasal dari keluarga yang lebih kaya dibandingkan Sandar, punya motif yang sama untuk menjadi pelacur sejak 4 tahun lalu."Saya menikah dan suami saya ternyata positif HIV," kata Sei Sar Nyo, yang memiliki seorang putra yang masih kecil. Suaminya yang kemudian menularkan virus HIV itu padanya, sejak lama terbaring sakit sehingga tak bisa bekerja."Saya punya banyak masalah dan tak ada orang tempat saya bergantung," ujar Sei Sar Nyo. Seorang teman kemudian membujuknya untuk bekerja di restoran yang ternyata merupakan rumah bordil ilegal. Awalnya hati Sei Sar Nyo berontak, namun dia akhirnya rela menjadi pelacur karena lilitan masalah keluarga dan utang yang menumpuk.Tidak seperti di negara-negara tetangga seperti Thailand, yang bisa terang-terangan melakukan transaksi seks dengan para pelacur, di Myanmar kondisinya berbeda. Di negeri Burma itu, bisnis seks berlangsung secara sembunyi-sembunyi.
(ita/sss)











































