Eks Walikota Bogota: Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

Eks Walikota Bogota: Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

- detikNews
Selasa, 24 Apr 2007 14:24 WIB
Jakarta - Pembangunan mal di kota-kota besar tidak selamanya menunjukkan citra positif. Bisa jadi justru negatif. Mantan Walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penalosa, menilai ciri kota sakit bisa dilihat dari banyaknya jumlah mal. Makin banyak jumlah mal, makin sakitlah kota tersebut. Karena pembangunan mal dipastikan telah memangkas ruang publik.Kota yang baik, menurut Penalosa dalam seminar di Hotel Mandarin Oriental, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/4/2007), adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya."Kota yang baik membutuhkan tempat untuk penduduk dapat berjalan kaki, penduduknya harus bisa berkumpul bersama," ujar Penalosa.Ketika mal menggantikan ruang publik sebagai tempat bertemu warga, maka kota itu bisa dicirikan sebagai kota yang sakit. Sebab pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Mal hanya mencegah orang miskin tidak masuk ke dalamnya. "Memisahkan antara si kaya dan si miskin. Jelas orang miskin tidak akan merasa nyaman di mal," tegas dia.Kota yang baik, imbuhnya, harus menghormati harga diri manusia. "Di kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama," katanya.Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. "Mereka sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar," ujarnya. (umi/asy)


Berita Terkait