Praja Seangkatan Beri Kesaksian Kematian Aliyan Wajar
Selasa, 24 Apr 2007 12:43 WIB
Bandung - Misteri kematian Aliyan, praja IPDN asal Kalimantan Barat, terus menjadi sorotan. Tak mau dipojokkan, rekan seangkatan Aliyan pun buka mulut. Menurut mereka, kematian Aliyan murni karena kecelakaan.Kesaksian mengenai peristiwa yang terjadi 14 tahun lalu disampaikan alumni STPDN (sekarang IPDN) di kampus IPDN, Jl Raya Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (24/4/2007).Menurut Joni Irwanto, praja STPDN angkatan ke-3/1991, Aliyan terjatuh dari lantai II Barak Lampung pada Senin 7 Juni 1993 sekitar pukul 16.00 WIB. Aliyan saat itu sedang menyiram bunga yang berada di atas kanopi barak Lampung atas."Dia (Aliyan) melewati pagar pembatas lewat celah pagar besi. Dan kemudian melompat ke kanopi, saat melompat itu dia jatuh dengan kepala terlebih dahulu," tutur Joni.Para praja kemudian membawa Aliyan ke Klinik Sakit Asrama (KSA). Rambut Aliyan dicukur dan lukanya diperban. Kemudian pada pukul 18.30 WIB, Aliyan baru dilarikan ke RSU Sumedang."Saat itu kondisi Aliyan sudah sangat parah. Dia tidak bicara dan bernapas. Jadi tidak benar ada pemukulan terhadap Aliyan," ujar Joni.Hal senada disampaikan alumni STPDN lainnya, Dini Ardiyanto. Menurut Dini, tidak seorang praja pun diperkenankan masuk ke KSA. Aliyan hanya didampingi oleh ketua kontingen dan ketua angkatan."Kami hanya bisa menunggu di luar ruang KSA. Kakak Aliyan, yakni Alkaf yang menjadi pengasuh ikut menemani di dalam," kata Dini yang dulu tinggal di barak Bengkulu bawah. Barak ini terletak persis di depan barak Lampung tempat Aliyan tinggal.Hasil pemeriksaan dokter di RSU Sumedang, Aliyan dinyatakan mengalami patah leher. Kondisi ini membuat Aliyan sulit bernapas. Akhirnya pada Selasa 8 Juni pagi, Aliyan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung.Namun di RSHS ini Aliyan tidak bertahan lama. Sekitar pukul 22.45 WIB, Aliyan menghembuskan napas terakhir. Jenazah Aliyan kemudian disemayamkan di kampus IPDN. Dan pada Rabu 9 Juni, Aliyan dimakamkan di Sumedang."Keputusan untuk memakamkan Aliyan di Sumedang diambil oleh kakaknya sendiri (Alkaf). Alasannya orang tua mereka sudah renta," ujar Hasanudin, mantan Ketua Kontingen Kalbar.Namun para alumni STPDN ini mengakui bahwa jenazah Aliyan tidak diotopsi. Namun mereka tidak bisa memberikan jawaban yang jelas mengenai hal itu."Keputusan otopsi adalah kewenangan medis dan lembaga. Sebagai praja kami tidak mengetahuinya," ujar Joni.
(djo/nrl)











































