Misteri Kaburnya Praja STPDN Duan dan Abdul Rahman
Senin, 23 Apr 2007 17:21 WIB
Solo - Keberadaan Abdul Rahman, praja STPDN (kini IPDN-Red) asal Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur, hingga saat ini masih misterius. Semula dia berencana melarikan diri dari kampus bersama Duan Nur Ariwibowo, praja asal Solo. Namun saat itu Rahman batal melarikan diri bersama. Mungkinkah dia masih hidup?Bulan Oktober 1992, Duan bersama Rahman bersepakat melarikan diri dari STPDN karena tidak kuat disiksa. Mereka sepakat bertemu di mulut gorong-gorong di bawah tower air di dalam kampus Jatinangor, Sumedang. Pada Pukul 22.00 WIB, Duan masuk ke gorong-gorong itu. Namun dua jam Duan menunggu, Rahman tak kunjung datang.Akhirnya dari pukul 00.00 WIB, Duan sendirian merangkaki gorong-gorong dan sampai di sebuah sungai pukul 04.00 WIB. Selanjutnya dia ditolong seorang tukang ojek dan sembunyi dua hari di rumah tukang ojek itu. Setelah itu, Duan pulang ke Solo juga atas biaya dari si tukang ojek.Duan mengaku tidak mengetahui nasib Rahman setelah itu. Dia juga tidak tahu alasan Rahman mengurungkan niatnya untuk lari. Dia bahkan mengetahui Rahman dinyatakan hilang dari pemberitaan yang akhir-akhir ini gencar menyoroti kekerasan di kampus itu.Menurut Duan, saat dia menunggu Rahman di mulut gorong-gorong, dia benar-benar dalam kondisi panik. Sebab, bila dirinya tepergok senior, pasti dia dihukum dengan siksaan yang lebih berat. Namun, saat itu, dia memutuskan masuk ke gorong-gorong.Selama satu jam di gorong-gorong, lanjut dia, Duan masih setia menunggu datangnya Rahman. Dari cahaya luar yang masuk ke gorong-gorong, Duan memang melihat ada seseorang berada di mulut gorong-gorong. Namun dia tidak bisa memastikan apakah itu Rahman atau bukan."Saya tidak yakin apakah itu Rahman atau senior. Karenanya saya memutuskan segera menjauh masuk ke gorong-gorong dan merayap keluar. Sebab jika tenyata itu senior dan mengetahui keberadaan saya di situ, maka saya pasti jadi sasaran hukuman," ungkapnya, Senin, (23/4/2007).Apakah Rahman tertangkap senior saat hendak melarikan diri? Apakah dia lalu 'digulung' para senior itu? Digulung adalah istilah yang dipakai para praja senior di STPDN atau IPDN untuk menghabisi yunior secara massal.Apakah orang di mulut gorong-gorong yang diketahui Duan itu adalah Rahman? Apakah Rahman berhasil lolos juga dari kampus STPDN setelah Duan lalu tidak pulang ke rumah agar tidak dicari pihak kampus? Misteri Rahman belum terjawab.DPRD Kaltim beberapa waktu lalu telah mendatangi kampus IPDN untuk menanyakan tentang raibnya Abdul Rahman. Keluarganya di Kaltim juga mengaku sudah putus kontak dengan Rahman selama 15 tahun. Namun, informasi yang beredar, Rahman berhasil kabur dari kampus itu dan saat ini malah menjadi PNS di Sukabumi.
(mbr/asy)











































