Pasien Disfungsi Ereksi Meningkat karena Stres Tinggi
Sabtu, 21 Apr 2007 19:19 WIB
Surabaya - Makin banyak kaum pria yang mengalami disfungsi ereksi (DE). Hal itu terbukti dengan adanya peningkatan jumlah pasien DE hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Pakar andrologi RSAL dr Ramelan Surabaya, dr Johannes Soedjono MKes mengatakan, hal itu disebabkan tingginya tingkat stres di kalangan pria."Tahun lalu, jumlah pasien baru misalnya ada 10 orang. Awal tahun ini, angka penderitanya meningkat. Yakni, sekitar 20 pasien baru tiap bulannya," kata Johannes di RSAL Ramelan, Jl Gadung No 1, Surabaya, Sabtu (21/4/2007).Menarik, lanjut Johannes, ada perbedaan kalangan usia pasien yang berobat kepada Johannes. Bila di RSAL dr Ramelan, penderita DE rata-rata di kalangan lansia (lanjut usia). Tapi, pasien yang datang ke tempat praktik Johannes, malah banyak dari kategori usia produktif. Bahkan, banyak pula pasien yang usianya 20-25 tahun, yakni ketika mereka mau menikah. "Ada banyak faktor pencetus mereka menderita DE. Tapi, faktor terbanyak adalah pasien mengalami DE akibat stres tinggi," tambahnya.Johannes menjelaskan, pencetus stres tinggi bukan karena masalah gangguan anatomi, seperti micro penis (penis kecil). Tapi, justru karena faktor pekerjaan. Dengan kondisi perekonomian yang belum membaik, membuat para pria selaku kepala keluarga, bekerja lebih keras. "Bahkan, rela bekerja hingga tangah malam atau lembur untuk mendapatkan dana tambahan. Ketika sampai di rumah, sudah capek. Adik-nya juga ikut-ikutan tidur karena kecapekan," jelasnya.Bila hal ini terus terjadi, lama kelamaan akan muncul gangguan libido alias gairah. Karena terlalu capek, akhirnya tak bergairah untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Bila dibiarkan atau tanpa ditangani lebih lanjut, maka bisa berakibat terjadinya DE. "Kondisi tersebut yang saat ini banyak dialami para pria yang berobat ke saya," tambahnya.Selain stres karena pekerjaan, faktor lainnya adalah permasalahan pada pasangannya. Bisa karena sudah bosan, tidak lagi mencintai atau bergairah, atau permasalahan yang muncul di kalangan pasangan suami istri (pasutri)."Hal-hal tersebut yang membuat hubungan rumah tangga jadi tidak nyaman dan mesra lagi. Bila dibiarkan, kondisi tersebut juga mempengaruhi gairah dan ereksi," jelas Johannes.Faktor lain pencetus stres yang berdampak menjadi DE adalah latar belakang atau trauma masa lalu. Johannes menjelaskan anak yang lahir dari keluarga broken home mengalami persoalan psikologis, terutama berkaitan dengan perceraian. Untuk kasus yang parah, muncul rasa antipati terhadap lawan jenis atau ketidakpercayaan pada lembaga pernikahan. "Saya sedikit sekali menangani kasus tersebut. Paling banyak ya, mengalami DE karena stres pekerjaan," ucapnya.
(gik/ary)











































