Ditutup Pemkot Bandung, Warga Saritem Mengaku Stres

Ditutup Pemkot Bandung, Warga Saritem Mengaku Stres

- detikNews
Sabtu, 21 Apr 2007 12:15 WIB
Bandung - Hingar-bingar musik dangdut terdengar di bekas lokalisasi Saritem, Bandung, Jawa Barat. Puluhan orang asyik berjoget sambil sesekali berteriak tak karuan."Stres...stres, warga Saritem hese dahar (warga Saritem susah makan)!" teriak seorang wanita paruh baya sambil berjoget. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, terselib sebatang rokok.Pasca penutupan yang dilakukan oleh Pemkot Bandung, Rabu 18 April, kini tidak ada lagi kegiatan prostitusi di lokalisasi tersebut. Tidak ada lagi senyum nakal dan panggilan menggoda para wanita penghibur. Toko-toko yang biasa menjual jamu atau kebutuhan khas lokalisasi prostitusi lainnya juga tutup. Rumah-rumah yang hampir semuanya berjendela kaca lebar terlihat sepi. Beberapa pria di dalamnya hanya terlihat tidur-tiduran atau main catur."Kita stres. Warga bingung, bagaimana mau cari makan. Jadi ya kita cari hiburan aja kayak gini," kata Asep Kosasih, warga RW 9 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, Sabtu (21/4/2007). Lokalisasi Saritem memang masuk ke wilayah RW 7 dan RW 9. Selain berjoget ria, warga setempat juga terlihat mendirikan sebuah dapur umum. Menurut Asep, langkah ini dilakukan warga untuk mengurangi beban mereka."Supaya kita nggak berat, ya makan juga terpaksa harus patungan. Pokoknya segalanya kita lakukan bersama deh," ungkap Asep.Selama ini warga RW 07 dan RW 09 Saritem memang menggantungkan hidupnya dari usaha di lingkungan lokalisasi prostitusi Saritem. Setidaknya jumlah warga yang menggantungkan hidupnya dari usaha prostitusi itu mencapai 4.000 orang.Namun menurut versi Pemkot Bandung, jumlah warga setempat yang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut hanya 1.089 orang. Mereka terdiri dari 428 orang berprofesi sebagai calo, 96 orang sebagai pedagang, 205 orang sebagai mucikari, dan 360 orang sebagai pengangguran. (djo/asy)


Berita Terkait