Rencana Reshuffle Buat Menteri dan Calon Menteri Jantungan
Jumat, 20 Apr 2007 17:26 WIB
Jakarta - Rencana reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu oleh presiden SBY yang akan dilakukan pada awal Mei 2007 dinilai terlalu lama. Rencana SBY ini dinilai akan semakin memperkeruh suasana kerja menteri kabinet dan menjadi ajang politik dagang sapi. Menteri dan calon menteri bisa-bisa jantungan. "Saya dengar awal Mei, tapi kenapa selama itu. Apa susah pilih orang? Kalau terlalu lama hanya akan membuat yang akan jadi menteri empot-empotan. Yang saat ini menjabat menteri jadi gelisah, sehingga kinerja menteri tidak kondusif," kata Pengamat Politik UI Maswardi Rauf dalam diskusi Dialektika Demokrasi di presroom DPR, Jakarta, Jumat (20/4/2007). Guru besar ilmu politik UI ini menilai reshuffle kabinet tidak akan memberikan pengaruh signifkan, bila SBY mengantikan orang yang salah. Karena itu SBY harus tegas, tidak boleh terpengaruh oleh Wakil Presiden dan para pimpinan partai politik. "Tidak usah rembukan dengan banyak orang. Tegas saja. Yang tahu berhasil atau tidak, kan presiden. Karena itu presiden harus membuat catatan. Jangan digantung terus," terang dia. Maswadi menilai menteri baru hasil reshuffle tidak akan maksimal dalam bekerja, apalagi bila SBY kembali mengakomodir orang-orang dari partai politik. Hal ini terjadi karena masa kerja menteri hasil reshuffle hanya tinggal 2,5 tahun saja. "Kerja menteri baru nantinya sangat sedikit, sehingga makin kecil bagi SBY untuk menunjukkan hasil reshuffle kepada rakyat. Apalagi jika yang dipilih dari partai politik dipastikan satu tahu terakhir tidak akan berkonsentrasi untuk kerja kabinet, melainkan untuk parpolnya," terang dia. Saat ditanya siapa saja menteri yang harus di-reshuffle, Maswadi hanya menyebutkan kriteria. "Ganti tiga sampai empat menteri yang dinilai sakit-sakitan, menteri yang kinerjanya buruk dan menteri yang bermasalah seperti Menkum dan HAM," pungkas dia.
(yid/asy)











































