Pacari Praja Wanita, Praja IPDN Harus Siap Dipukul
Jumat, 20 Apr 2007 10:15 WIB
Bandung - Budaya kekerasan di IPDN telah menggurita di kalangan praja. Bahkan dalam persoalan asmara sekalipun. Jika seorang praja pria mencintai praja wanita yang berbeda kontingen, dia harus siap dihajar habis-habisan oleh praja pria dari kontingen wanita. Jika pingsan, akibatnya bisa lebih buruk lagi. Praja tersebut harus siap patah hati karena tidak "direstui".Hal ini disampaikan tiga dari tujuh tersangka penganiaya Cliff Muntu kepada kuasa hukumnya, Nurkholim, kepada detikcom di Cimahi, Jumat pagi (20/4/2007). Ketiga tersangka itu adalah Hikmat Faisal, Frans Albert Yoku, dan Ahmad Ari Pandi Harahap."Misalnya ada kontingen pria dari Jawa Barat (Jabar) menaruh hati kepada kontingen wanita dari Jawa Tengah (Jateng). Sebelum melakukan pendekatan, praja pria dari Jabar ini harus berhadapan dengan seluruh praja pria dari Jateng," ujarnya."Kemudian praja yang diberikan kewenangan atau yang dituakan dari Jateng memukuli si praja dari Jabar itu. Pukulannya bebas. Si praja harus siap dan tidak boleh pingsan. Kalau pingsan, dianggap gagal," tambahnya.Tidak berhenti sampai sini. Jika berhasil dan dinyatakan resmi, praja itu harus mengirim tumpeng ke kontingen praja wanita. "Klien saya mengaku tidak tahu kapan tradisi ini muncul karena sudah ada sebelum mereka masuk," ucapnya.Menurut pengakuan kliennya, kata Nurkholim, di IPDN banyak terjadi jalinan asmara sesama praja. Sehingga, dapat dipastikan mereka pun mengalami tindak kekerasan.Namun Nurkholim yakin, para praja tidak akan ada yang mau mengaku. Gerakan tutup mulut di lingkungan civitas akademik IPDN telah berjalan secara sistematik. "Budaya ini dilakukan berulang-ulang dan disepakati oleh mereka," ujarnya.
(ern/djo)











































