Puskaptis: PAN Salah Langkah Pasangkan Sarwono-Jeffrie
Jumat, 20 Apr 2007 06:46 WIB
Jakarta - Dalam rapat pleno DPP yang digelar Rabu 18 April 2007, Partai Amanat Nasional (PAN) akhirnya memutuskan Sarwono Kusumaatmadja dan Jeffrie Geovanni sebagai pasangan cagub-cawagub DKI. Pengamat menilai PAN salah langkah memutuskan pasangan calon tersebut. "Masih ada waktu sampai pendaftaran. PAN sebaiknya melihat kembali keputusannya," cetus Direktur Pusat Kajian Pembangunan dan Kebijakan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid saat dihubungi detikcom, Jumat (20/4/2007).Menurut Husin, berdasarkan survei yang dilakukan lembaga dan beberapa lembaga lainnya, mayoritas masyarakat DKI Jakarta menginginkan komposisi sipil-militer atau militer-sipil sebagai pemimpin Ibukota. Dalam survei lembaganya terhadap lebih dari 1200 responden pada Maret dan April 2007, menunjukkan masyarakat yang menginginkan komposisi militer-sipil/sipil militer mencapai 75 persen pada Maret dan 65 persen pada April. "Itu artinya, seharusnya PAN mempertimbangkan hasil survei tersebut, yang juga dilakukan oleh lembaga-lembaga lain. Sarwono seharusnya dipasangkan dengan sosok militer. Atau sebaliknya," kata Husin.Keputusan memasangkan Sarwono dengan Jeffrie, menurut Husin, membuat peluang koalisi yang dibangun PAN-PKB sangat kecil untuk menang dalam pilkada. Selain karena komposisi sipil-sipil, alasan lain adalah karena Jeffrie belum memiliki pengalaman dalam memimpin ibukota."Kalau Sarwono memiliki pengalaman soal tata ruang kota, memiliki banyak konsep dan program tentang pembangunan. Tapi Jeffrie, menurut saya tidak memiliki pengalaman itu. Bukan hanya kedepankan popularitas, tapi track record, skill, manajerial, dan inovasi. Karena itu, sebaiknya pasangan ini banyak melakukan manuver jika ingin menang," tutur Husin.Selain itu, Husin menambahkan, keraguan terhadap pasangan tersebut disebabkan dalam survei lembaga yang dikelolanya, mayoritas warga DKI Jakarta menempatkan persoalan keamanan sebagai yang paling prioritas. Setelah itu soal ketertiban, pendidikan, kesehatan dan lain-lain."Masyarakat DKI menginginkan sosok yang tegas, berani dan menjamin Jakarta yang kondusif. Jadi jangan hanya ikut pesta demokrasi tapi tidak lihat pasar. Jangan paksakan produk kalau tidak diinginkan pasar," pungkas dia.
(rmd/aba)











































