Peraih Medali Olimpiade Fisika Diusahakan Bebas dari UN
Jumat, 20 Apr 2007 01:06 WIB
Jakarta - Demi menggenjot prestasi, 16 siswa yang akan berlaga di Olimpiade Fisika Tingkat Asia atau Asian Physics Olympiad (APhO) VIII akan diperlakukan istimewa. Jika berhasil meraih medali, mereka diusahakan bebas dari kewajiban mengikuti ujian nasional.Demikianlah janji Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto saat beramahtamah dengan Tim TOFI di Gedung Depdiknas, Jakarta, dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (19/4/2007).Suyanto mengharapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dapat mengkonversi perolehan medali dengan membebaskan dari UN. "Mereka yang sudah dapat medali tidak perlu mengambil UN," cetus Suyanto.Usul Suyanto ini terkait jadwal olimpiade yang akan berlangsung pada 21-29 April 2007 di Shanghai, Cina itu, bertabrakan dengan jadwal UN. Sehingga 16 siswa yang terbagi atas 2 tim tersebut tidak bisa mengikuti UN. Sementara ini, Suyanto baru mengusahakan penangguhan mengikuti UN.Biaya untuk mengirimkan 2 tim yang Tim A-nya dipimpin fisikawan Yohanes Surya itu menghabiskan seratus miliar rupiah. Menurut Suyanto, anggaran tersebut dialokasikan untuk penyelenggaraan seleksi mulai dari tingkat bawah."Mereka dihimpun dari bawah, bertanding, dan berkompetisi. Saya juga mengapresiasi pihak-pihak lain yang ikut berkontribusi," ujarnya.Ketua Tim B Rachmat Widodo Adi mengaku telah menggembleng tim yang dipimpinnya selama delapan bulan. Dia menjelaskan pelatihan yang dilakukan cukup berat."Karena memang calon petarung dan tuan rumah yang mempunyai reputasi luar biasa," katanya. Pada APhO sebelumnya di Kazakhstan, Indonesia menempati urutan kedua dengan dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Sementara tim Cina berada di urutan pertama dengan menggondol delapan emas. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh Taiwan.
(aba/rmd)











































