Ibunda Praja Aliyan Menangis di Makam Anaknya
Kamis, 19 Apr 2007 21:26 WIB
Sumedang - Ibu Aliyan, Saroah (74) menangis tersedu-sedu di depan makam anaknya yang sejak kematiannya 14 tahun lalu, tidak pernah dia lihat. Saroah ditemani anaknya, Ahmadi, serta teman seangkatan Aliyan di STPDN, Iskandar. Sorot matanya terlihat menyimpan kerinduan dan duka mendalam. Kamis (19/4/2007) sore, Saroah, dengan dipapah anaknya duduk terpekur di depan makam anaknya di TPU Cibesi, Jatinangor, Sumedang, sekitar 1 km dari Kampus IPDN. Air mata tak kuasa dia bendung.Hanya sedikit kata yang keluar dari mulut wanita renta ini. Dia lebih banyak menangis sambil tangannya mendekap pigura yang berisi foto hitam putih Aliyan. Kemudian, Saroah tampak khusuk berdoa. Begitu pula Ahmadi dan Iskandar."Mamak (Saroah) tak kuat mendengar berita (soal Aliyan). Sebenarnya kami ikhlas dengan kejadian 14 tahun lalu. Mungkin sudah takdir. Tapi, kata Pak Inu (Inu Kencana, dosen IPDN) ada penganiayaan, sehingga kami ingin tahu yang sebenarnya," lirih Saroah.Menurut Ahmadi, sebenarnya hingga saat ini ada pertanyaan besar di benak keluarga. Karena, penyebab kematian abangnya masih simpang siur. "Ada yang mengatakan Aliyan patah leher, gegar otak, sampai patah tenggorokan. Kesimpangsiuran ini memilukan hati keluarga," tutur dia. Berdasarkan pengakuan abangnya yang juga praja IPDN, Alkaf, memang ada memar-memar di beberapa bagian tubuh Aliyan. Namun, lanjut Ahmadi, hal itu disebabkan karena kakaknya terjatuh dari lantai dua.Berdasarkan keterangan dari pihak IPDN, Aliyan meninggal akibat terjatuh dari lantai dua barak Bengkulu saat menyiram bunga. Namun menurut Inu Kencana, setelah jatuh, Aliyan dipukul oleh pengasuh di klinik karena dianggap cengeng.
(ern/asy)











































