Kekerasan di IPDN Akibat Keliru Adopsi Pendidikan Militer
Kamis, 19 Apr 2007 12:38 WIB
Jakarta - Pendidikan gaya militeristik di IPDN terus menuai hujan kritik. Padahal pendidikan di IPDN berbeda dengan pendidikan di Akademi Militer (Akmil).Pendidikan gaya militer di Akmil nantinya akan dibawa ke medan tempur. Sedangkan di IPDN nantinya akan melayani masyarakat."Saya terkejut melihat tayangan di TV, saat melihat anak IPDN ditendang di ulu hati. Itu sama dengan membunuh. Di pendidikan militer tidak ada yang seperti itu. Itu adopsi yang keliru dari pendidikan militer," ujar pengamat militer dan mantan instruktur TNI AL, Laksamana Pertama TNI Purn Johanes Judiono.Dia menyampaikan hal itu di sela-sela diskusi terbatas bertajuk 'Kekerasan IPDN dari Perspektif Keterbukaan Informasi dan Demokratisasi Pendidikan' di Hotel Ibis Tamarin, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2007).Menurut Judiono, pendidikan di IPDN dibuat semimiliter akibat pegawai negeri tidak disiplin.Judiono menerangkan, di dalam militer semua perintah harus dipatuhi. Sebab kalau ragu-ragu atau berdebat di medan tempur, berarti mati.Judiono juga menilai hubungan senior dan junior di IPDN berdasarkan rasa takut dan dendam. Sedangkan di Akmil, ada istilah kakak asuh, hubungannya dekat sekali."Bahkan kalau sudah lulus dan bekerja, tidak ada istilah pangkat lagi. Cukup panggil mas atau dek saja," tuturnya.Judiono juga menambahkan, dalam mendidik dan menerapkan disiplin harus hati-hati, karena jika salah mendidik, justru akan menghasilkan pembunuh."Di Akmil diajarkan tidak ada prajurit yang salah, yang ada, pemimpin yang salah," terangnya.
(nik/sss)











































