Lima Siswa SMAN Dipecat Saat UN Berlangsung
Kamis, 19 Apr 2007 12:04 WIB
Ambon - Lima siswa SMA Negeri 2 Namlea, Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, Maluku apes. Mereka dipecat saat ujian nasional (UN) berlangsung. Gara-garanya mereka nekat lompat pagar. Kelima siswa itu dipecat saat UN hari kedua, Rabu (18/4/2007) kemarin. Kelima orang ini adalah Abdul Rauf, Umagapi, Jufri Zainudin Tomia, Muhamad Saleh dan Wawan Kusnan. Pihak sekolah beralasan, pemecatan dilakukan karena kelima siswa melakukan tindakan indisipliner. "Sudah ditegur berulang kali, tetapi tidak berubah," ujar Kepala SMAN 2 Namlea Bammang Langlang Buana yang dikonfirmasi wartawan terkait permasalahan ini. Sang Kepsek menegaskan kelima siswa itu tidak dipecat, tapi dimutasi ke sekolah lain. "Mereka kami mutasi ke SMA Negeri Mako. Jadi bukan dipecat," ujar Bammang. Mengapa dimutasi saat pelaksanaan UN, Bammang tak mau berkomentar.Kepala dinas pendidikan, Kabupaten Buru, Hakim Fatsey yang dihubungi detikcom, Kamis (19/4/2007) menyesalkan sikap yang diambil pihak sekolah. "Saya akan panggil kepsek-nya. Mutasi bukan saat pelaksanaan UN itu dilaksanakan. Ini akan memberikan dampak psikologis yang tidak baik kepada siswa. Otomatis akan mengganggu mereka dalam UN tersebut," tandas Fatsey.Fatsey juga mengaku baru tahu dari wartawan saat ditanyakan soal ini. "Saya akan langsung mengeceknya," kata dia. Langkah pihak SMAN 2 Namlea juga dinilai membunuh masa depan anak-anak. Orangtua Muhammad Saleh sangat kecewa dengan tindakan pihak sekolah. "Sebagai orangtua, saya sangat sesalkan dan kecewa dengan pihak sekolah. Mengapa hal ini tidak dibicarakan dengan kami. Mengapa dipecat saat mereka mau UN?" tanya dia sambil menangis. Sukanto Ternate Sari, Ketua LSM Lembaga Partisipasi Potensi Pemberadayaan Pedesaan (LP4) mengatakan, keputusan sekolah terhadap lima siswanya terlalu berlebihan, karena kesalahan yang dibuat tidak sekomplek apa yang dibayangkan. Dan kepala sekolah hanya berkelit dengan istillah mutasi, padahal yang sebenarnya adalah pemecatan.Menurut dia, tidak ada sekolah yang akan menerima siswa dari sekolah dengan prestasi yang buruk. Lagipula kalau pindah untuk sekolah harus ada catatan dari sekolah asal. Bagaimana mungkin pemecatan kemudian dikatakan mutasi. Ini adalah penjelasan yang irasional dan mengada-ngada.Hal lain yang tidak populis adalah melakukan hal tersebut menjelang kelima siswa tersebut saat mengikuti ujian nasional, karena akan mengorbankan kelima siswa. "Kami minta sang kepsek dipanggil dinas pendidikan," pinta dia.
(han/asy)











































