Keluarga Cho Pindah ke AS Karena Bosan Hidup Miskin
Rabu, 18 Apr 2007 15:02 WIB
Seoul - Usai tragedi penembakan di kampus Virginia Tech, perhatian publik tertuju pada keluarga Cho Seung-Hui, pria pendiam dan penyendiri yang melakukan pembunuhan besar-besaran itu. Keluarga pemuda Korsel itu ternyata pindah ke AS karena bosan hidup miskin di negara asalnya.Sewaktu di Korsel, keluarga Cho tinggal di pinggiran Seoul. Mereka tinggal di sebuah apartemen bawah tanah yang disewakan, biasanya merupakan bagian termurah dari sebuah gedung. Demikian diungkapkan pemilik gedung Lim Bong-ae kepada Chosun Ilbo, koran terbesar Korsel. "Saya tidak tahu apa pekerjaan ayah Cho. Namun mereka hidup miskin," kata Lim seperti diberitakan AFP, Rabu (18/4/2007)."Saat akan pindah, ayah Cho berujar mereka akan pergi ke Amerika karena susah hidup di sini dan lebih baik tinggal di tempat di mana dia tidak dikenal," tutur Lim.Ayah Cho bernama Cho Seong-tae yang kini berusia 61 tahun. Cho dan keluarganya tiba di AS pada tahun 1992. Cho dibesarkan di pinggiran Washington, D.C. Saat itu ayah dan ibunya bekerja di sebuah usaha laundry.Perlahan tapi pasti kehidupan keluarga Cho mulai membaik. Hingga akhirnya keluarga itu pindah dan menetap di Centreville, Virginia. Di sanalah keluarga Cho membuka bisnis laundry yang terus berjalan hingga kini.Cho yang berusia 23 tahun sedang menempuh studi bahasa Inggris di Universitas Virginia Tech, tempat dirinya menabur maut dengan menewaskan 32 orang. Setelah menembaki korban-korbannya secara membabi-buta, pria muda itu pun menghabisi nyawanya. Keluarga Cho sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait perbuatan keji putranya. Menurut kantor berita resmi Korsel Yonhap, keluarga Cho saat ini tengah dirawat di rumah sakit karena mengalami syok atas kejadian berdarah itu.
(ita/nrl)











































