Mudahnya Punya Pistol di Amrik

Mudahnya Punya Pistol di Amrik

- detikNews
Rabu, 18 Apr 2007 12:58 WIB
Jakarta - Ibunda Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan heran mengapa senjata api bisa masuk kampus. Dengan senjata api Cho, mahasiswa Korsel, itulah anak tirinya tewas tertembus peluru panas.Menurut penuturan Bimo Ario Tejo, PhD dari Department of Pharmaceutical Chemistry The University of Kansas, mendapatkan senjata api di AS sungguhlah gampang, asal punya uang dan punya waktu training 8 jam.Berikut ini penuturan Bimo lewat surat elektronik pada detikcom, Rabu (18/4/2007):Kasus pembantaian masal di kampus Virginia Tech kemarin telah memicu kembali debat mengenai kebebasan kepemilikan senjata api di AS.Amerika adalah salah satu negara yang rakyatnya paling mudah mendapatkan senjata api. Hak memiliki senjata api ini dijamin oleh Amandemen Kedua Konstitusi AS tahun 1789 yang intinya menjamin keberadaan milisi bersenjata dan hak rakyat untuk mempersenjatai dirinya. Walaupun amandemen itu dibuat ketika AS sedang dilanda perang saudara, pasal-pasalnya tetap berlaku sampai sekarang. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi pelarangan kepemilikan senjata api seperti di negara-negara Eropa.Setiap negara bagian sebenarnya telah mengeluarkan aturan sendiri-sendiri agar hak rakyat mempersenjatai dirinya itu tidak diterjemahkan semena-mena. Di Kansas tempat saya tinggal misalnya, baru tahun lalu (2006) mengizinkan warganya untuk memiliki senjata api dengan izin; istilahnya concealed gun (senjata yang dibawa tapi tidak dipamer-pamerkan ke muka publik). Untuk memiliki concealed gun ini, seseorang harus menjalani training selama 8 jam oleh instruktur yang bersertifikat. Selain itu, seseorang yang ingin membeli senjata api biasanya dicek criminal background-nya oleh si pemilik toko, walaupun urusan cek-mengecek ini biasanya tidak dilakukan secara serius.Nah, asalkan ada uang dan waktu 8 jam untuk training, sangat mudah memiliki senjata api di Amerika. Senjata yang dipakai Cho dalam peristiwa pembantaian kemarin harganya cuma $500 (setara Rp 4,5 juta-red), yang bahkan seorang mahasiswa pun sanggup membelinya.Saat ini debat di koran-koran AS jadi berputar-putar. Yang mendukung pelarangan senjata api mengatakan: semakin sedikit senjata yang beredar, masyarakat semakin aman. Yang mendukung kepemilikan senjata api mengatakan: kalau saja kemarin ada seorang mahasiswa lain yang membawa pistol, pasti si Cho sudah ditembak mati duluan sebelum membantai puluhan orang lainnya. Nah, ruwet kan? (nrl/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads