Publik Korsel Terkejut & Malu Atas Perbuatan Keji Cho
Rabu, 18 Apr 2007 12:20 WIB
Seoul - Publik Korea Selatan (Korsel) merasa terkejut dan malu atas perbuatan Cho Seung-Hui yang menebar maut di kampus Virginia Tech, AS."Sebagai orang Korea, saya merasa malu," ujar Lee Young-Seok, seorang pegawai negeri Korsel, seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (18/4/2007).Pria itu juga khawatir akan keselamatan mahasiswa Korsel lainnya di AS menyusul peristiwa berdarah itu. "Saya tahu ada banyak siswa Korsel di AS dan saya kini sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka," imbuhnya.Para pejabat dan publik Korsel punya kekhawatiran akan adanya aksi balas dendam terhadap jutaan warga Korea yang tinggal di Amerika. Untuk membahas kemungkinan itu, Presiden Korsel Roh Moo-Hyun langsung menggelar sidang darurat kabinet. Pemerintah Korsel akan mengupayakan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya aksi pembalasan terhadap warga Korea di AS.Sejauh ini belum ada pernyataan dari keluarga Cho yang mengelola bisnis laundry di Centreville, Virginia. Menurut kantor berita resmi Korsel, Yonhap, keluarga Cho saat ini dirawat di rumah sakit karena mengalami syok akibat penembakan brutal yang menewaskan 33 orang itu.Namun komunitas Korea di daerah itu ramai membicarakan insiden tragis itu. "Saya sangat ngeri. Saya tidak percaya dia berasal dari sini," kata Chung Hyun-soo, yang tinggal tak jauh dari kediaman keluarga Cho."Semua orang membicarakannya. Mengejutkan sekali ternyata dia orang Korea," cetus Kathy Chang, tetangga Cho lainnya.Kwon Tae-myun, konsul jenderal di kedutaan Korsel di AS menyerukan warga Korsel untuk tetap tenang. "Ini kejahatan yang sangat mengguncang masyarakat AS," katanya. "Namun ini tindakan perorangan, tersendiri dan tidak terkait dengan ras apa pun atau negara. Warga Korea-Amerika harus menanggapi ini dengan tenang," imbuhnya.Cho dan keluarganya berangkat dari Korsel menuju AS pada tahun 1992. Cho mengambil studi bahasa Inggris di Universitas Virginia Tech dan tinggal di asrama kampus. Pria penyendiri itu merupakan satu dari sekitar 460 siswa asal Korsel yang saat ini sedang menempuh studi di universitas tersebut.
(ita/nrl)











































