Belajar di AS Tidak Aman, Pelajar Indonesia Diminta Waspada
Rabu, 18 Apr 2007 12:09 WIB
Medan - Para pelajar Indonesia di Amerika Serikat (AS) diminta untuk berhati-hati selama menuntut ilmu di negeri tersebut. Sebab, potensi menjadi korban kekerasan bersenjata api di lembaga pendidikan di AS sangat tinggi, karena standar pengamanan yang sangat rendah. Kasus di Virginia menjadi contoh. Pernyataan ini disampaikan anggota DPRD Sumatera Utara Effendi Naibaho kepada wartawan, Rabu (18/4/2007), di Jalan Karsa Medan, usai melayat ke rumah duka keluarga Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan, salah satu korban tewas di Virginia. "Kasus penembakan di lingkungan universitas dan sekolah, sering terjadi di AS. Kasus di Virginia, yang turut menewaskan pelajar kita, hanyalah salah satunya. Tahun 2007 ini mungkin satu kali, tetapi tahun 2006 lalu, seingat saya setidaknya ada tiga kali kasus penembakan di lingkungan sekolah. Ini warning untuk pelajar Indonesia," kata Effendi Naibaho yang juga Wakil Ketua PDI Perjuangan Sumatera Utara. Disebutkan Naibaho, berdasarkan rangkuman pemberitaan di media massa, pada tahun 2006 terjadi setidaknya tiga kali penembakan yang menyebabkan korban jiwa di AS. Yakni pada bulan Oktober di Pennsylvania dengan lima korban tewas. Kemudian pada September di Winconsin dengan satu korban tewas, dan masih juga di bulan September di Colorado, seorang pelajar tewas. "Semuanya ini menjadi indikator yang lebih dari cukup. Sekarang, salah satu pelajar Indonesia menjadi korban. Ke depan, kemungkinan selalu ada. Sebab di sana senjata api begitu mudahnya diperoleh. Saya kira, bagi warga Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, hal ini patut menjadi pertimbangan. Sementara yang sedang belajar di sana, hendaknya meningkatkan kehati-hatian," kata Naibaho. Dalam kaitan kasus tewasnya Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan, selain menyatakan rasa belasungkawa, Naibaho juga menyatakan prihatin atas kasus penembakan di Virginia tersebut. Prihatin karena tindakan penembakan yang terjadi di lingkungan pendidikan, mengindikasikan ada persoalan dalam masalah penanganan pengamanan. "Negara kita sering dikecam masalah demokrasi, HAM, mendapat Travel Warning, dan segala macam. Tetapi tidak pernah ada pembunuhan massal di lembaga pendidikan," kata Naibaho.
(rul/asy)











































