Kebrutalan Cho Dipicu Kecemburuan pada Mantan Pacar

Kebrutalan Cho Dipicu Kecemburuan pada Mantan Pacar

- detikNews
Rabu, 18 Apr 2007 09:50 WIB
Virginia - Dia memulai aksi brutalnya dengan membunuh mantan pacarnya. Gadis itu ditembaknya di asrama kampus karena cemburu. Sekitar dua jam lebih kemudian, pria bersenjata itu menembaki orang-orang lainnya di kampus Virginia Tech. Akibatnya, 32 nyawa melayang.Sedikitnya 28 orang lainnya saat ini masih dirawat di rumah sakit karena luka-luka tembakan dan cedera akibat melompat dari jendela saat menyelamatkan diri dari amukan pemuda berusia 23 tahun itu.Polisi yakin, si penembak bernama Cho Seung-Hui asal Korea Selatan (Korsel) itu mulai melancarkan aksi mautnya pada Senin 16 April pukul 07.15 waktu setempat di asrama West Ambler Johnston Hall dengan membunuh Emily Jane Hilscher. Cho pernah jatuh hati pada perempuan berumur 18 tahun itu."Pacarnya itu mengkhianati dirinya dan dia memutuskan untuk mengamuk," kata Karina Porushkevich, teman Emily kepada Herald, Rabu (18/4/2007). Mahasiswa lainnya mengungkapkan, Cho dan Emily sempat bertengkar hebat sebelum Cho menembak perempuan itu hingga tewas. Cho juga menembak mati seorang pemuda berusia 22 tahun, Ryan Clar yang kebetulan melintas di tempat kejadian. Namun selama dua jam kemudian, Cho yang sedang mengambil studi bahasa Inggris di Virginia Tech itu bersembunyi di kampus, menunggu saat untuk beraksi kembali. Sedangkan pihak universitas baru mengeluarkan peringatan mengenai insiden penembakan itu pada pukul 09.26 waktu setempat. "Insiden penembakan terjadi di asrama West Ambler Johnston pagi tadi. Polisi sedang berada di lokasi dan menyelidiki. Komunitas universitas diimbau untuk waspada dan diminta menghubungi Kepolisian Virginia Tech jika menemukan sesuatu yang mencurigakan," demikian peringatan universitas yang dikirimkan melalui email untuk para mahasiswanya.Namun peringatan tersebut dianggap sangat terlambat. Gara-gara inilah, pihak universitas mendapat kecaman dari banyak kalangan. Mereka dituding tidak tanggap dan cepat dalam menghadapi situasi genting seperti itu. Mereka seharusnya menutup pintu masuk kampus dan meniadakan kelas setelah penembakan pertama di asrama itu. Akhirnya, tak lebih dari empat menit setelah email tersebut, korban-korban Cho kembali berjatuhan. (ita/nrl)



Berita Terkait