Saat Kuliah di Unpar, Mora Sering Bolos dan Jadi Bodyguard

Saat Kuliah di Unpar, Mora Sering Bolos dan Jadi Bodyguard

- detikNews
Rabu, 18 Apr 2007 09:20 WIB
Jakarta - Kematian Partahi Mamora Holomoan Lumbantoruan (34) mengejutkan teman-temannya sesama alumni Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung.Saat di Unpar, lajang yang sering dipanggil Mora ini, sering membolos kuliah. Dia juga sering jadi bodyguard, karena ditakuti orang-orang yang sering buat jahil. Salah satu alumnus Unpar yang sangat syok dengan kematian Mora adalah Mia Wimala Soejoso. Begitu mendengar berita bahwa Mora menjadi korban tewaspenembakan di Virginia Tech University, Mia langsung teriris. "Mendengar berita penembakannya saja saya sudah sebel banget, apalagi yang menjadi adalah orang yang aku kenal," kata Mia saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (18/4/2007). Mia yang kini menjadi dosen di Universiti Tun Hussein Onn, Johor, Malaysia ini mengaku bersama-sama Mora selama 4 tahun saat kuliah di Unpar. Setiap hari, Mia dan Mora selalu bertemu. Padahal, Mia dan Mora beda angkatan. Mia angkatan 1993, sedangkan Mora angkatan 1991. Menurut Mia, Mora bukanlah orang yang ngotot untuk segera menyelesaikan studinya. Malah, kata dia, Mora sering membolos. "Kita sama-sama sering bolos bareng. Dia itu orangnya easy going, gak ngotot. Karena itu, dia baru lulus tahun 1997 bareng aku," kata perempuan asal Salatiga, Jawa Tengah itu. Yang paling sering dilakukan Mora dan Mia adalah main dan sering makan-makan. "Kita hunting makanan di sekitar Dago-lah. Kita memang hobinya mencoba semua makanan. Pokoknya kita menghabiskan duit untuk makan-makan," kisah Mia. Mia juga sering dibantu Mora. Mia pernah meminta Mora menjadi bodyguard saat kerja lapangan di Holiday Inn Bandung. "Dia itu kan seram wajahnya. Tubuhnya juga berbulu. Dia ditakuti oleh orang-orang yang suka jahil. Tapi, hatinya lembut lho," ujar Mia. Mia dan Mora juga saling membantu. Pernah suatu saat, Mora yang tinggal di sebuah rumah kos di kawasan Cipaganti, Bandung kemalingan. "Paling ingat, pasrumah dia kemasukan maling. Semua barang dia habis, kecuali baju di jemuran," ujar Mia. Yang membuat Mia prihatin, draf skripsi Mora juga hilang. "Skripsi yang dia lagi ketik juga ilang. Baik soft copy maupun hardcopynya. Jadinya, saya bantuinngetik skripsi lagi. Apalagi saat itu akan segera sidang," ujar Mia. Setelah lulus 1997, Mia dan Mora sudah sangat jarang bertemu. "Kita putus kontak. Pernah akhirnya bertemu tiga tahun lalu di Jakarta. Tapi, nothing special, kita hanya bernostalgia, cerita soal kerja dan cerita masa lalu saat kuliah," ujar dia. Setelah itu, tidak ada komunikasi lagi, baik lewat telepon atau email. Mia sempat heran, mengapa Mora kok jadi getol kuliah lagi. Padahal, saat di S1, Mora biasa-biasa saja. "Makanya, waktu saya mendengar dia ke US untuk S3,saya cukup kaget. Aku juga heran kok dia semangat banget belajar. Padahal, pas S1 dia nyantai-nyantai saja. Aku pikir dia terus mau kerja, tapi ternyata diasemangat mau belajar," ujar dia. (asy/nrl)


Berita Terkait