Partahi Lumbantaroan Harusnya Tamat Mei 2008
Rabu, 18 Apr 2007 04:55 WIB
Medan - Kala berangkat ke Amerika Serikat pada Januari 2004, Partahi Mamora Halomoan Lumbantoruan (34) hanya punya satu tekad, kembali dengan gelar doktor. Dia seharusnya menamatkan pendidikan S3-nya di Virginia, Amerika Serikat, pada Mei 2008 mendatang. Namun takdir berkata lain, dia menjadi salah satu korban penembakan di kampus Virginia. "Keinginan belajarnya demikian kuat. Dia menyatakan hanya akan pulang jika sudah meraih sarjana," kata Toham Lumbantoruan (67), ayah Mamora Halomoan, Rabu dinihari (18/4/2007), di rumah duka, Jalan Karsa No F8, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat, Medan. Mamora Halomoan kuliah atas biaya orangtuanya. Setiap semester biaya kuliah yang harus dibayar sebesar US$ 8.000, atau setara dengan Rp 72 juta dengan kurs Rp 9.000. Di Virginia, Mamora membiayai hidupnya dengan bekerja sambilan. "Kita sudah habis-habisan untuk membiayai kuliahnya. Sebenarnya dalam waktu dekat saya dan istri akan menjual satu unit mobil Panther untuk membayar uang kuliahnya. Kami ingin dia juga berhasil. Tapi, mau kemana lagi," imbuh Toham. Keluarga memang sangat mendukung keinginan Mamora Halomoan untuk belajar di negeri Paman Sam tersebut. Karena memang menjadi cita-citanya sedari awal, setelah menamatkan pendidikan di Universitas Parahyangan, Bandung. "Selama sekolah di Amerika Serikat, dia tidak pernah pulang ke Indonesia, karena memang saya larang. Dia anak yang sungguh-sungguh dalam belajar," ungkap Toham dengan wajah tertunduk sedih.
(rul/ndr)











































