Mengapa Seseorang Bisa Melakukan Pembunuhan Massal?

Mengapa Seseorang Bisa Melakukan Pembunuhan Massal?

- detikNews
Selasa, 17 Apr 2007 11:50 WIB
Virginia - Pembunuhan besar-besaran yang terjadi di Universitas Virginia Tech, AS, merupakan kejahatan yang sulit dipahami. Bagaimana seorang pria bersenjata mengamuk di kampus dan memilih para korbannya secara acak?Dia jelas bukan pembunuhan berantai, yang dengan hati-hati menguntit calon mangsanya. Dia tampaknya membunuh tanpa alasan dan langsung menembak dirinya sendiri.Sejauh ini belum jelas identitas pelaku penembakan di kampus Virginia Tech yang menewaskan sedikitnya 33 orang, termasuk pelaku. Para saksi mata menggambarkan pelaku sebagai pria Asia yang berusia sekitar 19 tahun.Para mahasiswa menuturkan, pelaku secara membabi-buta mengarahkan tembakan ke mahasiswa dan staf universitas sebagai upaya untuk merenggut korban jiwa sebanyak mungkin. Polisi menemukan dua pistol di tempat kejadian.Gambaran paling umum dari seorang pembunuh massal adalah pria bersenjata yang melakukan aksinya seorang diri. Seseorang yang "terasing, penyendiri dan antisosial," kata Alan Langlieb, direktur bagian kejiwaan di Universitas Johns Hopkins, AS.Lantas bagaimana seseorang bisa melakukan kejahatan mengerikan seperti itu? Langlieb cuma berujar, "Tak ada jawaban untuk itu."Menurutnya, perilaku manusia terlalu kompleks untuk bisa dijelaskan. "Sebagian karena direncanakan, namun seseorang bisa saja terbangun di pagi hari dan memutuskan: saya akan menimbulkan malapetaka sosial," ujar pakar psikologi itu seperti diberitakan AFP, Selasa (17/4/2007).Dikatakan Langlieb, ada beberapa orang yang tidak punya penghargaan atas nyawa manusia sehingga bisa melakukan kejahatan mengerikan seperti itu. Apalagi kondisi mereka yang tidak stabil, terasing dari kehidupan sosial, marah kepada dunia dan ingin menyatakan sikap. Dan hampir tidak mungkin diketahui kapan peristiwa itu akan terjadi.Badan Secret Service AS menyatakan, tidak ada gambaran akurat mengenai siswa yang terlibat dalam kekerasan di sekolah. Dinas Rahasia AS itu sampai pada kesimpulan tersebut setelah mempelajari 37 insiden kekerasan di sekolah yang melibatkan 41 penyerang di AS antara tahun 1974 dan 2000.Menurut Secret Service, kebanyakan penyerang tidak punya sejarah kekerasan atau catatan kejahatan. Namun tiga perempat dari para penyerang merasa teraniaya, terancam, marah, diserang atau dilukai oleh orang lain sebelum kejadian penyerangan itu. Mereka juga sulit menerima kekalahan atau kegagalan pribadi. (ita/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads