Salah Besar IPDN Tiru TNI
Minggu, 15 Apr 2007 14:24 WIB
Jakarta - Benarkah IPDN mengadopsi sistem pendidikan ala TNI? Kedisiplinan, loyal pada negara jelas didapat dari militer. Kalau tradisi kekerasan?"Kalau yang diadopsi soal penegakan disiplin, loyal terhadap negara dan bangsa, hormat dan patuh kepada atasan dan cerdas memahami ilmu yang diajarkan, itu bagus dan output dari Akmil itu. Tapi kalau cara-cara (kekerasan) seperti itu bukan. Saya tidak tahu adopsi dari mana. Itu bukan cara-cara pendidikan militer," tegas Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto.Hal itu disampaikan Panglima TNI usai Gerak Jalan HUT ke-43 Dharma Pertiwi di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (15/4/2007)."Sewaktu-waktu silakan lihat ke Magelang, Yogyakarta dan Surabaya untuk melihat kehidupan mereka. Didikan keras dan spartan, memang dibutuhkan dalam tugas. Tapi tidak ada tindakan seperti ditunjukkan di video (IPND) itu," lanjut Djoko.Menurut Panglima, pendidikan militer sangat terukur. Terlarang untuk melakukan kontak fisik, seperti pukulan, tendangan dan tempeleng. Bila ada pelanggaran penegakan disiplin, sanksinya berupa pembinaan fisik.Pembinaan fisik bisa menyuruh lari taruna agar sehat badannya, jungkir-jungkir supaya kalau disiksa lawan atau musuh bisa tahan, atau disiram dan direndam air. Pembinaan fisik ini diperlukan bagi taruna yang memang akan menghadapi situasi perang."Silakan dievaluasi sendiri, apakah itu bisa diberikan kepada mahasiswa IPDN? Itu tidak, saya kira. Mungkin adopsi kedisiplinan, loyalitas dan kecerdasan itubagus. Tapi kalau konsep pembinaan di praja itu salah besar," tandas Djoko.
(zal/aba)











































