Pusing-pusing dengan Monorel

Catatan dari Kuala Lumpur

Pusing-pusing dengan Monorel

- detikNews
Kamis, 12 Apr 2007 10:17 WIB
Pusing-pusing dengan Monorel
Kuala Lumpur - Menjelajahi sebuah kota bagi seorang pelancong paling nikmat adalah dengan mencicipi setiap transportasi yang ada. Nah, jika mampir ke Kuala Lumpur, tidak ada salahnya berpusing-pusing (berkeliling) menyaksikan kesibukan ibukota Malaysia ini lewat monorel. Nyaman.Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, wartawan detikcom, Ana Shofiana, tak henti membayangkan monorel. Di kota semacam ini, rasanya enak juga berkeliling kota dengan kereta yang dihias dengan cantik tersebut. Apalagi di Indonesia, monorel hanya menyisakan "monumen" beton saja.Sehari, dua hari berlalu, kesempatan itu belum kunjung ada. Menikmati balapan Formula 1 di Sepang yang berlangsung 7 dan 8 April 2007 lebih menjadi prioritas utama. Namun hasrat mencicipi asyiknya naik monorel belum juga padam.Usai perhelatan F1 Sepang, barulah keinginan itu terwujud. Senin, 9 April 2007 pagi, dengan semangat '45, kaki ini melangkah ringan ke halte Raja Chulan. Sebenarnya ada halte Bukit Bintang yang lebih dekat dari penginapan, namun jalan kaki sikit tak masalah. Sengaja untuk menikmati udara pagi dengan berjalan kaki terlebih dulu.Tiba di tempat tujuan, kita harus menaiki tangga lebih dulu. Tidak terlalu tinggi atau panjang seperti halte busway di Jakarta. Cuma setingkat, penjual tiket monorel terlihat. Keterangan tempat tujuan dan harga tiket terpasang di depan bilik penjualan tiket. Harga tiket berkisar antara 1,2 RM hingga 2,1 RM (Sekitar Rp 3.000 hingga Rp 5.500). Semua tergantung jarak tujuan.Selanjutnya, tiket dimasukkan ke tempat yang disediakan, agar kita bisa masuk ke tempat penantian kereta monorel. Tiket tersebut tidak tertelan, jadi harus dikantongi kembali. Kenapa ya?Tidak terlalu banyak rupanya peminat transportasi satu ini. Tidak lebih dari 10 orang yang menanti. Tak sampai 5 menit menunggu, kereta warna merah putih dengan corak ceria bertuliskan 'Kuala Lumpur International Buskers' tiba. Masuk ke kereta monorel, udara sejuk langsung menyambut. Ahhh, adeem.Rupanya tidak ada kursi kosong tersedia. Namun penumpangnya juga tidak terlalu banyak. Beberapa di antaranya adalah turis asing yang selama perjalanan melongokkan pandangannya ke luar jendela. "Wah, suka lihat pemandangan ke bawah juga. Sammmaaaa..," begitu hati berkata melihat dua bule menikmati suasana kota.Dari atas kereta monorel, tempat yang saya tuju adalah KL Sentral. Dari halte Raja Chulan, kereta monorel harus mampir ke 5 halte sebelum tiba di KL Sentral. Yakni halte Bukit Bintang, Imbi, Hang Tuah, Maharajalela, dan Tun Sambanthan. Sebelumnya, transportasi udara ini beranjak dari halte Titiwangsa melewati Chow Kit, Medan Tuanku, dan Bukit Nanas.Selama perjalanan, penumpang bisa menyaksikan suasana kota dan gedung-gedung indah. Mal-mal tampak di kanan-kiri jalan berjejer. Mobil antre di perempatan lampu merah menunggu lampu berganti hijau. Ah, di sebelah kanan juga terlihat menara KL yang nyaris terlupakan karena kalah saing dengan menara kembar Petronas.Tidak terasa 20 menit kemudian kereta sudah tiba di halte KL Sentral. Penumpang pun turun dengan tertib dan menuju tangga turun. Untuk keluar dari halte, penumpang harus memasukkan tiket magnetik yang ketika berangkat harus dikantongi ke pintu keluar. Dan tiket pun tertelan, tidak dimuntahkan lagi. Ah, terjawab sudah kenapa tadi tiket tidak tertelan.Reporter detikcom tidak keluar dari pintu pembatas tersebut. Naik tangga menuju ke atas tempat penantian kereta monorel lebih menjadi pilihan. Tidak membeli tiket lagi. Ada rasa penasaran apakah nanti bisa keluar di halte yang namanya bukan yang tertera di tiket? Nekat, ah. Siapa tahu seperti busway di Jakarta. Bisa keliling-keliling tanpa harus beli tiket lagi.Kereta tiba, seorang pria masuk ke dalam dan langsung membuka pintu kemudi kereta monorel. Rupanya dia 'masinis'-nya. Selang beberapa lama, kereta pun melaju. Pemandangan yang tadi sudah dicicipi kembali terlihat. Hingga kereta tiba di halte Bukit Bintang. Penumpang pun turun. Ada sedikit dag dig dug ketika memasukkan tiket bertuliskan KL Sentral ke dalam pintu pembuka di halte Bukit Bintang ini. Kreek... berhasil. "Akal-akalan" itu sukses. Leganya... (ana/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads