Wita, Pengancam Bom Mabes Polri Pengagum Pak Harto
Kamis, 12 Apr 2007 08:10 WIB
Jakarta -
Sepak terjang Sri Winarsih alias Wita menuntut keadilan atas dirinya banyak mendapat respons beragam. Peneror Mabes Polri ini dinilai sebagai wanita yang berani, namun tak sedikit pula yang menganggap usahanya sia-sia.Ancaman Wita ke Mabes Polri dikirimkannya ke SMS 1717 milik Polda Metro Jaya pada Rabu 4 April 2007 pukul 07.35 WIB. Isi ancaman itu adalah "Keluarga Presiden SBY pencuri, Mabes Polri sebentar lagi meledak."Tak seperti pengancam lainnya, Wita tak juga diciduk oleh polisi. Polisi menganggapnya "tidak berbahaya".Selain "berjuang" lewat SMS, usaha agar aparat mengusut kasusnya di Bea dan Cukai telah mengantarkan Wita pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Wita menilai hanya SBY yang dapat membantu untuk mengungkap kebobrokan dan mafia yang bercokol di tubuh institusi penarik pajak itu. Oleh karena itu, saat SBY sedang menghadiri suatu acara di Hotel Bidakara, ia pun menyampaikan sebuah buku yang dijilid mirip skripsi pada SBY. Saat detikcom bertandang ke rumah kontrakannya akhir pekan lalu, ia menghadiahkan salinan buku itu yang berjudul "Ditujukan Kepada Yang Mulia: Bapak Bangsa Indonesia H.M. Soeharto".Di kontrakannya yang terletak di Pulo Permatasari, Jl Taman Nilam I Blok B V No 2, Bekasi, wanita yang tengah hamil anak ketiga itu mengaku secara tegas sebagai pengagum mantan Presiden RI H.M. Soeharto."Ya, saya pengagum berat Pak Harto," ujarnya lantang.Tentang 'skripsi' yang dijilid rapi, Wita menuturkan, buku itu berisi kronologi kasus yang menimpanya dan nasihat pada SBY agar mencontoh Pak Harto dalam memimpin negeri. Dia lalu mencontohkan, keadaan negara saat ini lebih jelek daripada zaman Pak Harto.Wita menyebutkan teknik yang digunakan Pak Harto adalah menyeimbangkan positif dan negatif untuk menyejahterakan rakyatnya. Dana untuk kemasyarakatan tidak selalu dari cara yang benar.
(gah/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































