3 Bulan Tak Terima Honor, Tukang Sapu Jalan Pasrah

3 Bulan Tak Terima Honor, Tukang Sapu Jalan Pasrah

- detikNews
Rabu, 11 Apr 2007 18:19 WIB
Jakarta - Di usianya yang telah separuh abad, Warini (53) tetap berusaha menjadi orang berguna, tidak merepotkan keluarganya. Dengan segenap sisa tenaga, ia menjadi tukang sapu jalanan berseragam oranye dengan wilayah kerja sepanjang jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara."Yang penting tidak ngerepotin keluarga. Udah tua, tahu diri," kata Warini saat ditemui di samping sapu dan gerobak sampahnya, Rabu (11/4/2007). Warini tinggal di RT 4/8 Koja, Jakarta Utara.Aktivitas Warini selalu bercampur debu jalanan. Ia hanya menggunakan kaos bekas untuk menutupi muka dan kepalanya dari sengatan matahari dan asap knalpot. Setiap hari, ia mulai bergiat sejak pukul 06.00 WIB hingga siang menjelang. Terkadang, bila hujan dan gerimis menghadang, ia hanya sempat berteduh sejenak."Terkadang menyapu hingga belakang jalan besar, ke jalan menuju kantor-kantor dinas. Kalau hujan ya neduh seadanya. Di jalan ini ada sepuluh teman. Kalau teman-teman seperusahaan ada 43 orang," ucap Warini merinci.Lelah, tentu saja. Namun bagi nenek empat cucu itu lelah menjadi biasa. Ia tetap memilih bekerja, selain tuntutan ekonomi, juga karena tidak ingin menjadi jompo di rumah tanpa aktivitas."Lumayan buat nambah uang saku ke cucu. Sehari dapat honor Rp 11.000. Ya kalau dibandingin capek dan risiko keserempet mobil, nggak sebanding. Dapur juga harus ngepul," tambah perempuan yang telah menjanda sejak tiga tahun lalu itu.Sayang, nampaknya kini ia kesulitan memberi uang saku ke cucu-cucunya. Sebab, sudah tiga bulan honor yang seharusnya ia terima tak kunjung turun. Saat ia mencoba mencari penjelasan kepada perusahaan, yang ia dapathanya penantian."Nggak tahu lah. Saya tahunya perusahaan tidak punya uang. Yang tahu persis yang muda-muda," keluh Warini sambil menunjuk Sudarwati (43) yang duduk bersimpuh di samping nenek itu.Mendapati dirinya didapuk bercerita, Sudarwati tak bisa mengelak. Ia mengaku bersama rekan-rekanya pernah menanyakan keterlambatan pembagian honor ke pihak perusahaan ataupun ke Dinas Kebersihan (Dinkeb) JakartaUtara. Namun hasilnya nihil."Perusahaan dan Dinkeb saling lempar tanggung jawab. Nanya ke perusahaan di lempar ke Dinkeb. Nanya ke Dinkeb dibalikin ke perusahaan," papar Sudarwati letih mengenang "investigasi" yang ia lakukan.Padahal, honor itu sangat ia nantikan untuk membiayai anak semata wayangnya, Indah (17) yang masih di sekolah di SMA 15 di kawasan Pluit. Untung suaminya, Darmaji (45) bekerja sebagai buruh bangunan di sekitar Pluit hingga biaya transportasi bisa ditekan."Jadi murah ongkos transportasinya. Bisa nebeng bapak. Tapi kalau pulang ya tetap nambah ongkos angkutan umum," kata warga RT 12/6 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok ini.Saat dikonfirmasi kebenaran penuturan para tukang sapu jalan ini, pihak Dinkeb Jakarta Utara memilih diam. Kasudin Kebersihan Jakarta Utara Barmen Sijabat tidak bisa ditemui dengan alasan sedang keluar kantor. Sementara nomor telepon genggamnya tidak bisa dihubungi."Lewat surat dulu aja mas, biar kita enak jawabnya," sergah salah satu pegawai sudin kebersihan yang berjaga di depan ruangan Barmen. (Ari/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads