Kematian Gagal Hati di RS Soetomo Meningkat
Selasa, 10 Apr 2007 20:13 WIB
Surabaya - Jangan anggap enteng bila tubuh tiba-tiba menguning meski dalam kondisi sehat. Ada baiknya segera memeriksakan ke dokter. Mungkin saja itu lever! Dan angka kematian akibat lever terus meningkat.Sebab, gejala tersebut menandai turunnya fungsi hati yang mengindikasi terjangkit penyakit gagal hati akut (GHA). Gejala tersebut kerap tidak disadari oleh sebagian orang.Saat ini, angka kematian penderita GHA adalah 75-80 persen di RSU dr Soetomo Surabaya. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 70 persen. Jika ada 100 penderita GHA, 80 di antaranya meninggal. Ini menunjukkan bahwa penyakit GHA ini tidak boleh dianggap enteng.Pakar penyakit hati RSU dr Soetomo, dr Poernomo Boedi SpPD-KGEH mengatakan, selain tubuh berwarna kuning, ada gangguan pembekuan darah, penurunan air seni dan panas badan yang merupakan indikasi masuknya virus dalam tubuh."Penyakit ini muncul bisa karena pengaruh obat-obatan, jamur, virus hepatitis atau keracunan obat. Faktor pencetus GHA terbanyak yakni aktifnya kembali virus hepatitis B pada pasien hepatitis B," katanya saat ditemui detikcom di RSU dr Soetomo, Surabaya, Selasa (10/4/2007).Mayoritas, lanjut Poernomo, pasien hepatitis di RSU dr Soetomo datang dalam kondisi terlambat. Bila tak segera ditangani, bisa meninggal dunia. Ia menjelaskan, angka kematian akibat GHA sangat tinggi. "Cara terbaik untuk mengenali penyakit ini adalah deteksi dini. Jika mengenali gejala-gejala awal penyakit GHA, maka bisa segera diobati," ucapnya.Poernomo menjelaskan, ada beberapa faktor mengenai tingginya angka kematian GHA. Yakni, sulitnya mengembalikan fungsi hati yang telah rusak. Kalaupun menggunakan terapi pengobatan, hanya bersifat pendukung saja. Tidak bisa menyembuhkan penyakit itu sendiri."Pengobatannya juga relatif mahal sehingga masyarakat kesulitan membayar. Ini yang membuat angka kematiannya tinggi," jelas Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya.Selain terapi obat-obatan, Poernomo menambahkan, GHA bisa disembuhkan bila pasien menjalani cangkok lever. Namun sayangnya, transplantasi hati ini juga mahal biayanya. Lagipula, harus menunggu mendapat donor lever. Kalaupun ada lever, belum tentu cocok dengan tubuh pasien. Sambil menunggu lever yang sesuai, pasien bisa menjalani terapi MARS (Molecular Absorbent Recycling System)."Cara kerja mesin ini sama dengan hemodialisa," tegasnya. Tujuan terapi ini yakni untuk mengeluarkan racun pada hati dan darah pasien. Namun, lagi-lagi terapi ini juga menelan biaya besar. Sekali terapi, pasien mengeluarkan dana Rp 35-40 juta. Ini karena terapi ini menggunakan bahan albumin sebanyak 500-600 cc yang harganya berkisar Rp 5-6 juta."Alat ini bisa membuat kondisi pasien lebih baik. Namun, tidak bisa menggantikan fungsi sintesa lever," katanya.
(mar/mar)











































