Inu Surati SBY tentang 17 Kematian Praja yang Tidak Wajar

- detikNews
Senin, 09 Apr 2007 19:06 WIB
Sumedang - Dosen IPDN yang diskors, Inu Kencana Syafi'i, menyurati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Isi surat itu mengabarkan mengenai adanya kematian 34 praja sejak tahun 1993. 17 Praja di antaranya meninggal dunia secara tidak wajar. "Saya kirimkan surat tadi pagi pada presiden dengan lampiran data mengenai kematian praja di lingkungan IPDN (dulu STPDN-red). Ini untuk meluruskan pemberitaan kalau saya hanya omong kosong belaka. Memang tidak semua kematian itu tidak wajar, tapi telah saya tandai kematian yang tidak wajar dan saya sampaikan kepada presiden," katanya kepada wartawan di rumah dinasnya di Komplek dosen IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Senin (9/4/2007). Dalam lampiran yang diperlihatkan kepada wartawan, tercantum 34 praja yang meninggal sejak tahun 1993 hingga 2007. Terakhir kematian mengenaskan Nindya Praja (tingkat 2-red) Cliff Muntu. Inu sengaja melingkari data kematian praja yang diyakininya meninggal dunia secara tidak wajar. Berikut data kematian praja : 8 Mei 1993 Madya Praja Aliyan kontingen Kalimantan Barat jatuh dari barak Bengkulu. 1994, Madya Praja Gatot kontingen Jatim meninggal pada saat selesai latihan dasar kemiliteran, di dadanya ditemukan bekas kebiru-biruan dengan tulang dada retak. "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kematian Gatot," tutur Inu. Tahun 1995, Madya Praja Alfian kontingen Lampung meninggal di barak dengan kepala pecah, 1997 Madya Praja Fahrudin kontingen Jateng meninggal di kelas tanpa sebab yang jelas dan STPDN mencegah untuk melakukan visum, 1999 Madya Praja Edy meninggal dunia dengan dalih belajar notor waktu praktek lapangan dan STPDN menolak visum, 2000 Madya Praja Arizal kontingen Sulsel meninggal dengan dalih tenggelam di Danau Toba, 2000 Madya Praja Purwanto kontingen Jateng meninggal setelah lulus dari STPDN karena dada retak. Tahun 2000 Madya Praja Obeth Nego Indow kontingen Papua meninggal di tempat kos kakak kelasnya karena muntah darah dengan dada retak. 3 Maret 2000, Eri rahman kontingen Jabar meninggal di rumah sakit setelah dipukuli tujuh praja senior yang tetap lulus setelah dipenjarakan. 2000, Nindya Praja Utari Mustika kontingen DKI Jakarta meninggal akibat pendarahan aborsi dan mayatnya ditinggalkan di sebuah masjid di Cimahi, Jabar. 25 Juli 2002, Muda Praja Teddy Frederich Hendra kontingen Maluku meninggal dunia di pantai Cilacap setelah berenang dan mayatnya terapung di pawang laut, 2002 Madya Praja Wirman Nurman kontingen Sulsel meninggal dan STPDN menyatakan sebagai korban kecelakaan, 2003 Madya Praja Wahyu Hidayat asal Jabar meninggal dunia akibat penganiayaan seniornya. 2004, Madya Praja Arizal Sasad kontingen Jateng meninggal dan diumumkan karena kecelakaan. 2005 Madya Praja Irfan Albert Hibo kontingen Papua meningggal di tempat kos dan pejabat IPDN mengatakan bunuh diri dengan baygon tapi terindikasi over dosis. 2006, Wasana Praja Manfred Hubi kontingen Papua meninggal di kampus IIP Cilandak Jakarta dan diklaim lever tapi tidak diotopsi, dan terakhir Cliff Muntu. "Perbedaan data saya dengan pejabat STPDN yang menyebutkan meninggal 29 karena mereka tidak memasukkan praja yang meninggal dunia secara misterius dan tidak dilakukan otopsi," tegasnya. Hal ini, lanjutnya, harus menjadi bahan pengusutan bagi tim investigasi yang dibentuk Depdagri.

(ern/asy)