'Penyiksaan Seperti Minum Obat'

Kekerasan di IPDN

'Penyiksaan Seperti Minum Obat'

- detikNews
Sabtu, 07 Apr 2007 15:14 WIB
Manado - Jauh sebelum Cliff Muntu, Madya Praja angkatan XVII Tahun 2005 Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tewas mengenaskan Selasa (3/4/2007) subuh, ternyata salah seorang teman angkatannya memilih melarikan diri dari kampus tersebut. Rekan Cliff tersebut memilih kabur, setelah dua kali masuk rumah sakit akibat muntah darah karena dianiaya seniornya.Praja asal Kontingen Sulawesi Utara berinisial GKPS alias Aria ini 'kabur' dari rumah sakit tempatnya dirawat, menuju Surabaya dan langsung kembali ke Manado, Desember 2006 lalu. "Maaf, tolong jangan ditulis lengkap nama dan tempat tinggal saya, takutnya saya dicari," tutur pria yang tinggal di kawasan utara Manado ini, Jumat (6/4/2007) malam.Aria mengaku terpaksa lari dari kampus yang sebenarnya diimpikan sejak kecil itu karena tidak tahan dengan tindak penyiksaan yang kerap dilakukan seniornya. Bukan saja senior dari daerah lain, tapi senior sedaerah tak jarang mencari-cari kesalahan untuk melegitimasi hukuman yang dijatuhkan."(Penyiksaan di IPDN) Kayak minum obat saja, tiga kali sehari, pagi, siang, dan malam. Bahkan bila salah tersenyum saja, bakal kena hukuman," papar anak kedua dari empat bersaudara ini. Biasanya, penyiksaan seperti ini dilakukan di barak senior tanpa ada pengawasan dari pengasuh.Setiap malam, para senior membangunkan praja madya (tingkat II) dan praja muda dan mencari-cari alasan agar para yunior punya kesalahan. Bila ada salah satu dari para yunior ini yang dinilai bersalah, semuanya disuruh berbaris dan menerima hukuman pukulan secara bergantian dari para senior.Bentuk hukumannya, setelah mata ditutup dengan kain hitam, para yunior yang disuruh berbaris berderet dipukuli secara bergilir para seniornya. "Yang paling sering jadi sasaran pemukulan adalah bagian dada dan leher. Bahkan tak jarang ke kemaluan," akunya. Aria sempat dua kali menjalani perawatan di rumah sakit, yakni RS Sadikin dan RS Al-Islam Surabaya (saat 'pelariannya' ke Manado) dengan keluhan utama sakit dada. "Saya lari hanya dengan baju di badan," tambahnya.Cliff yang akhirnya tewas, kata Aria, memang menjadi langganan aksi penyiksaan oleh para seniornya karena jabatannya sebagai ketua kontingen. Sebagai ketua kontingen, Cliff yang meraih nilai 122 (nilai sempurna) saat seleksi akademik masuk IPDN, jarang berada di barak. Cliff pun kerap mondar-mandir dipanggil kesana-kemari oleh para senior, dan dicari-cari kesalahannya agar bisa dihukum. "Saya pernah melihat Cliff muntah darah sesudah keluar dari salah satu barak senior," cerita Aria yang alumni SMA Negeri 3 Manado ini.Setelah Cliff akhirnya meninggal, Aria mengkhawatirkan 54 rekan seangkatan dan adik kelasnya yang kini masih menimba ilmu di lembaga yang bernaung di bawah Departemen Dalam Negeri itu. "Angkatan saya ada 22 orang (sekarang tinggal 20 setelah Aria memilih kabur dan Cliff meninggal dunia), kasihan mereka," keluhnya lirih. Berdasarkan data Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulawesi Utara, saat ini terdapat 114 praja asal daerah ini yang studi di IPDN.Aria yang sempat dua kali dijemput seniornya mengaku tak ingin kembali ke IPDN. "Saya trauma kalau dengar nama IPDN, bahkan semua atribut IPDN sudah saya buang. Saya mau pindah sekolah di bidang kepariwisataan saja," ujarnya memelas.Aria pun malam itu langsung mendapat telepon langsung dari Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Freddy Harry Sualang, atas nama Pemerintah Sulawesi Utara untuk memberikan perlindungan, setelah dirinya mendapat telepon bernada ancaman dari para seniornya. "Saya memang minta perlindungan ke Bapak Presiden dan Pemeriintah Provinsi Sulut," tukasnya.Sementara, di mata adik kembarnya, Novelia Andrely dan Novenia Andrely, Cliff adalah kakak yang tak pernah marah. "Kita semua yakin kakak Cliff sekarang bersama Tuhan Yesus dan bahagia di sana. Tuhan Yesus ampuni mereka (yang menganiaya Cliff), kakak Cliff sudah mengampuni mereka, karena kakak ndak pernah marah walaupun sudah disakiti," kisah si kembar dengan sedih. (qom/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads