Tim Depdagri Usut Kematian Cliff Muntu Dalam 2 Hari
Jumat, 06 Apr 2007 15:23 WIB
Sumedang - Tim investigasi bentukan Departemen Dalam Negeri (Depdagri) hanya diberi waktu dua hari untuk bekerja. Minggu (8/4/2007) besok, mereka harus segera melaporkan hasil penyelidikan kasus kematian praja IPDN Cliff Muntu (20) kepada Mendagri ad interim. Demikian disampaikan Sekjen Depdagri Progo Nurdjaman kepada wartawan di sela-sela kunjungannya bersama tim investigasi ke Kampus IPDN, Jalan Jatinangor, Sumedang, Jumat (6/4/2007). "Saya ke sini untuk melihat lokasi untuk olah TKP. Kita tunggu tim investigasi bekerja. Mereka diberi waktu selama dua hari karena Minggu (8/4/2007) harus sudah melaporkan kepada mendaghri ad interim," ujarnya.Ketika ditanya hasil sementara penyelidikan tim investigasi Depdagri, Progo mengatakan hal itu belum bisa diungkapkan. Dia menyatakan selain proses hukum pidana dilaksanakan, penegakan hukum disiplin kampus pun akan dilakukan. "Semua praja yang melanggar akan ditindak sesuai aturan. Saya sudah minta rektor untuk menegakkan hukum. Kemarin sudah ada empat praja yang diberhentikan secara tidak hormat dalam kasus ini (kematian Cliff Muntu-red)," katanya.Proses olah TKP yang dilakukan tim investigasi Depdagri berlangsung tertutup. Wartawan dilarang untuk mendekati barak DKI atas, yang merupakan lokasi penganiayaan Cliff. Kameraman dan fotografer hanya bisa mengabadikan suasana barak DKI Atas di seberang barak atau di depan barak Jabar.Pintu-pintu kamar barak tertutup rapat. Bahkan tirai jendela pun tertutup. Rata-rata para praja menekuk wajahnya saat meninggalkan barak untuk salat Jumat. Pada kesempatan yang sama, Progo juga membantah informasi mengenai adanya kasus kematian sebanyak 37 praja akibat penganiayaan di lingkungan IPDN. Menurut dia, dari tahun 1990 hingga sekarang hanya ada 27 praja yang meninggal dunia. "Yang meninggal karena kekerasan itu tiga orang, yaitu Erie Rahman tahun 2000, Wahyu Hidayat tahun 2002 dan terakhir sekarang Cliff Muntu. Selebihnya karena sakit, kecelakaan di kampung halamannya dan juga karena tsunami," ujarnya dengan nada tinggi.
(ern/asy)











































