Rasyid, Balita Malang yang Perlu Uluran Tangan
Kamis, 05 Apr 2007 20:49 WIB
Jakarta - Tubuhnya kurus. Tulang iga serta tulang punggungnya terlihat menyembul. Kedua kaki mungilnya tergolek lemas tak kuasa menopang tubuh kurus yang berbobot jauh di bawah balita normal itu. Hanya kepalanya yang terlihat normal, layaknya bocah kecil pada umumnya. Itu pun pandangan matanya selalu nanar dengan kepala menoleh kanan-kiri terus menerus."Rasyid menderita seperti itu sejak usianya 40 hari. Waktu itu, usai saya memberikan ASI, Rasyid langsung kaku. Saya kaget, langsung saya larikan ke RS Hermina Sunter," kata Ningsih (35), Ibunda Moh. Rasyid Rido (2), di rumahnya, Jl Ganggeng VI, RT 11/1 Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (5/4/2007).Sejak saat itu, istri Indra Bahrun itu rajin memeriksakan anak tercintanya ke dokter hingga habis puluhan juta rupiah. Sampai-sampai KTP dibuat jaminan untuk biaya berobat dan rumah warisan hendak dijual."Di RS Hermina, saya habis Rp 11 juta. Terus saya pindah ke RSI Cempaka Putih hingga dua kali habis Rp 5,7 juta. Untuk orang biasa kayak saya, sangat berat. Saya masih berhutang ke rumah sakit Rp 700.000. Terpaksa saya tinggalkan KTP untuk dapat keluar RS," ungkap Ningsih sambil menggendong kakak Rasyid, Aliyah (5).Menurut dokter, Rasyid menderita kekurangan oksigen ke otak. Akibatnya, sirkulasi darah tidak lancar hingga pertumbuhan Rasyid terhambat. "Dokter ahli syaraf Jimmy Pasat memvonis begitu. Sekarang, masih makan lancar meski hanya bubur. Minum harus disuapin. Pake dot bayi nggak bisa," keluh Ningsih kembali.Kini ia berharap ada dermawan yang dapat membantu kesulitan yang sedang melilit keluarganya. Terlebih dengan pendapatan suami yang pas-pasan, ia pesimis menghadapi persoalan itu.Ia tinggal mengandalkan tukang urut yang rutin memijit Rasyid berharap dapat sembuh. "Rumah saja mau saya jual untuk menutupi kebutuhan Rasyid. Sekarang hanya ke tukang urut dulu. Siapa tahu sembuh," harap Ningsih terbata-bata.
(Ari/asy)











































