Perjuangan Wita Dekati SBY: Dari Bidakara Hingga Cikeas
Kamis, 05 Apr 2007 12:07 WIB
Jakarta - Pusing kasusnya tidak ditindaklanjuti, Wita berusaha meminta bantuan Presiden SBY. Mulai dari menerobos Paspampres di Hotel Bidakara, hingga berkunjung ke kediaman SBY di Cikeas dijabaninya.Wita yang menjadi tersangka kasus penipuan ekspor-impor tekstil yang melibatkan anggota Bea Cukai merasa 'tersiksa' dengan nasibnya yang tak kunjung jelas. Sudah minta tolong sana-sini, pemilik nama lengkap Sri Winarsih hanya mendapatkan angin kosong."Mabes Polri dan KPK tidak berani terima kasus saya karena kasus ini lingkarannya besar," begitu jeritan hati wanita yang tengah hamil 5 bulan tersebut mengeluhkan nasibnya saat dihubungi detikcom, Kamis (5/4/2007).Kasus yang sudah mengendap selama setahunan di Mabes Polri membuatnya nyut-nyutan. Yang ada di pikiran Direktur PT Seta Sentral Sejahtera itu hanya minta bantuan orang nomor satu di Indonesia, yakni Presiden SBY.Wita mewujudkan tekadnya. Pada 12 April 2006, dia nekat menerobos barisan Paspampres. Saat itu, SBY sedang menghadiri acara seminar Eksponen 66 di Hotel Bidakara.Di tengah keramaian suasana, Wita berteriak. "Pak SBY, saya mau bicara dengan Bapak, masalah korupsi di Bea Cukai. Saya punya buktinya lengkap," begitu kisah Wita mengenang pertemuan pertamanya dengan Presiden SBY.Kala itu, masih cerita Wita, SBY sempat meminta ajudannya untuk membawa Wita menemuinya. Namun entah kenapa ajudan presiden malah membawa SBY masuk ke mobil karena khawatir ada bom. Wita juga harus diamankan Paspampres karena berani berteriak di hadapan SBY."Mobil Presiden tidak berangkat. Ajudannya bernama Kolonel Wiwit yang memarani (mendatangi) saya. Saat itu dia bertanya, apa yang mau Ibu berikan kepada Bapak Presiden," kata Wita mengulangi pertanyaan ajudan SBY.Saat itu Wita mengaku menitipkan dua buku kepada SBY. Pertama, buku kronologi kasusnya. Kedua, masalah barang sitaan."Saat itu saya juga sempat ditegur Pak Fahmi Idris (Menakertrans). Katanya saya mengganggu ketentraman presiden, dan saya bisa ditangkap," ujar wanita yang nekat mengirimkan ancaman bom ke Mabes Polri tersebut.Tak kapok dimarahi kanan-kiri, Wita juga meminta tolong kepada wartawan yang meliput seminar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, untuk membantu mempublikasikan kasusnya. Hasilnya, Paspampres menggiringnya ke basemen. Di sela-sela itu, HP Wita berdering."Itu telepon dari ajudan Pak SBY. Katanya Bapak ingin bicara," cerita ibu beranak dua itu semangat.Berikut petikan pembicaraan singkat Wita dengan SBY versi Wita:SBY: selamat pagi, ini Ibu Wita?Wita: Iya Pak, selamat pagi.SBY: Terima kasih atas dukungan terhadap kepemimpinan saya, dan saya sudah terima buku itu, dan saya akan pelajari. Mungkin 2-3 hari atau satu minggu lagi Ibu akan saya panggil.Wita: Iya Pak, saya tunggu."Namun sudah seminggu, setahun, sampai sekarang nggak ada kabar," keluhnya.Lama berlalu, sekitar Februari 2007, Wita pun mengunjungi kediaman SBY di Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Namun Wita tidak berhasil menemui SBY. "Katanya Bapak lagi ke Yogyakarta," aku Wita.Melalui ajudan presiden bernama Purwanto, Wita menitipkan buku tentang reformasi Bea Cukai. "Saya dikasih tanda terimanya. Dia berjanji akan memberikannya kepada Bapak SBY. Namun hingga kini saya belum juga menerima kabar apa-apa," ucapnya memelas.
(ana/sss)











































