Rachma Tak Takut 'Dikendarai' SBY, Tak Gentar Dikritik Mega

Rachma Tak Takut 'Dikendarai' SBY, Tak Gentar Dikritik Mega

- detikNews
Rabu, 04 Apr 2007 14:48 WIB
Jakarta - Penunjukan Rachmawati Soekarnoputri sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPP) cukup mengundang tanda tanya. Tentunya SBY memiliki hitung-hitungan sendiri mengapa menunjuk adik Megawati itu sebagai salah satu penasihatnya.Perempuan yang mengaku sudah mundur sebagai ketua umum Partai Pelopor ini menyatakan, dia tidak perlu memberi tahu kakaknya, Megawati, ketika ditunjuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dia juga tidak masalah bila Mega mengkritiknya.Berikut tanya jawab wartawan dengan Rachma seusai diterima Presiden SBY di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/4/2007).Apa tugas Anda?Sesuai dengan bidang saya, yaitu politik luar negeri dan dalam negeri, maka dalam mekanisme akan ada komunikasi dan koordinasi, namun keputusan di tangan komando atau pimpinan negara.Ini penting?Ya penting, penting.Apakah sudah memberitahu kepada Megawati kalau Anda masuk menjadi DPP?Ini hak hak perorangan, kan sifatnya perorang dan ini adalah hak preogeratif Presiden untuk memilih orang-orang yang duduk di DPP. Mungkin Megawati sudah tahu.Responsnya?Tidak tahu ya. Kan SBY dan Mega selalu bertentangan?Konteksnya, saya menjadi anggota DPP ini sudah menjadi statement, sedangkan Megawati sebagai orang partai. Jadi mungkin agak berbeda, jadi spektrumnya berbeda. Sebagai anggota dewan, ini adalah masalah negara yang diurus, dibicarakan.Anda tidak takut dipolitisasi oleh SBY menjelang 2009?Yang penting adalah visi atau misi DPP dalam memberi saran kepada kepala negara, itu menjadi suatu achievement, jadi soal kendaraan politik, dalam soal apa pun juga bisa saja melalui lembaga negara. Kalau beliau sebagai ketua partai, mungkin juga melalui ketua partaiTidak takut dijadikan kendaraan politik?Nggak, nggak takut sama sekali, yang penting kita bekerja untuk negara. Kalau untuk kepentingan 2009, itu lain. Bagaimana nanti kalau Megawati mengkritik Anda?Tidak masalah, kita demokratis saja. (lh/nrl)


Berita Terkait