Bolton Harga Miring Buatan Korban Lumpur Lapindo
Rabu, 04 Apr 2007 13:44 WIB
Sidoarjo - Warga Kedungbendo menciptakan bola beton atau biasa disebut bolton seperti yang sedang dilakukan oleh Timnas Penanggulangan Lumpur. Biaya yang dibutuhkan jauh lebih murah, hanya Rp 120 ribu. Sedangkan proyek bolton milik Timnnas nyaris menghabiskan Rp 3 miliar. Haa? Ya. Ainur Rofiq (36) sang penciptanya. Bapak dua anak yang tinggal di Kedungbendo RT 4 Tanggulangin Sidoarjo ini berhasil menciptakan bolton. Ide itu muncul di tengah kefrustrasiannya, karena rumahnya ditenggelamkan lumpur dan mata pencaharian sebagai tukang ojek ikut lenyap. Proses produksinya juga tidak memakan waktu banyak. Cukup satu hari satu malam. Jadi deh boltonnya. Pemasukan ke pusat semburan (insersi) kapan saja tanpa harus bergantung cuaca. Bolton ini juga tidak perlu craine (katrol) melainkan cukup dicelup dan lihat hasilnya. Eit! Jangan salah sangka dulu! Bolton ciptaan Rofi' ini bukanlah bolton yang selama ini diyakini Timnas mampu mengurangi volume lumpur di pusat semburan. Tetapi, bolton milik Rofiq tak lain adalan bola beton yang terbuat dari tepung kanji dan daging sapi. Kemudian diaduk dan dibentuk menjadi bulatan-bulatan berdiameter 2 cm. Bolton ala Ainur diberi nama 'Pentol Betone Lapindo'. "Pentol ini membawa hoki. Dagangan saya laris," kata Ainur saat berbincang dengan detikcom di bawah bekas jembatan Fly Over Tol Porong, Desa Siring, Sidoarjo, Rabu (4/4/2007). Lalu dari mana ide tersebut? "Saya dengar dari orang-orang kalau Lapindo mencoba menutup lumpur dengan bola beton. Kok kedengaran asyik kalau pentol saya kasih nama gitu," tuturnya sambil asyik melayani pembeli yang membeli pentol buatannya. Seakan tidak mau kalah dengan bolton timnas, pentol Betone Lapindo ala Ainur itu juga digantung di atas seutas tali dan disusun layaknya rangkaian bolton yang diinsersi ke dalam pusat semburan. Setiap rangkaian berisi lima pentol, ukurannya sebesar bola pimpong. Berbeda dengan bolton buatan timnas, bolton Ainur di dalamnya terdapat telur puyuh. Menurut dia, rangkaian bolton miliknya itu cepat laris. Banyak pembeli yang tertarik. Pentol sebesar bola pingpong itu dijual seharga Rp 500 rupiah/biji. Karena namanya menarik, tak ayal pentol bolton karya Ainur menyedot pembeli. Dalam sehari, ia mengaku mampu menghabiskan 5 Kg pentol dengan keuntungan Rp 40 ribu. Ainur meurpakan salah satu di antara ribuan warga Sidoarjo yang menjadi korban luapan lumpur. Ia terpaksa banting stir menjadi penjual pentol setelah jalanan di Kedungbendo tenggelam. Awalnya ia adalah tukang ojek di kawasan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera yang kini sudah nyaris hilang ditelan lumpur. "Lumpur adalah kesengsaraan bagi saya, tapi ini juga bawa keberuntungan," tambahnya sambil sesekali mengaduk pentol dari dalam panci yang ia bawa d iatas sepeda motor Yamaha Vega miliknya. Sambil tertawa, Ainur mengatakan, ia berharap pentol bolton yang ia buat bisa menutup kegalauannya karena kehilangan rumah akibat terendam lumpur. "Kalau bolton bisa mengendalikan semburan lumpur, maka bolton saya bisa menutup kebutuhan hidup sehari-hari," kata dia berkelakar. Tetapi, Ainur mengaku dirinya tidak akan selamanya bisnis pentol bolton. Sebab jika nantinya dirinya mendapat ganti rugi, dia akan beralih ke bengkel cat mobil. "Harapan saya sih Lapindo bayar 20 % dulu. Saya mau buka usaha. Nggak mau saya jual pentol terus," imbuhnya sambil tersenyum.
(gik/asy)











































