Maskapai Penerbangan di Indonesia Saling Merugikan
Selasa, 03 Apr 2007 20:02 WIB
Jakarta -
Maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia selama ini saling merugikan, bukan bersinergi dan berkoordinasi satu sama lain. Perilaku tersebut harus dihilangkan bila industri penerbangan Indonesia ingin bertahan dalam rangka open sky (pasar bebas industri penerbangan) yang akan dimulai tahun 2008 untuk ASEAN (Negara-Negara Asia Tenggara)."Di dalam negeri, sesama airline saling merugikan, bukan bersinergi. Misalnya antara Jakarta-Surabaya, tarif itu begitu murah, tidak masuk akal lagi kalau tarifnya 5 sen per seat per kilometer," ujar Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan (Dephub), Budhi Muliawan Suyitno, di Gedung Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (3/4/2007).Masalah yang dialami maskapai tersebut, menurut Budhi, karena armada maskapai yang satu dan armada maskapai yang lain belum terhubungkan satu sama lain. Yang ada hanya berebut jumlah frekuensi dan jalur penerbangan.Untuk memperbaiki keadaan itu, Budhi menyarankan agar maskapai penerbangan bersinergi seperti yang dilakukan maskapai-maskapai penerbangan asing. Budhi mencontohkan di luar negeri ada beberapa perusahaan yang bergabung membentuk kelompok dan tidak melayani semua jalur dengan pesawat dari maskapainya sendiri.Budhi mengibaratkan seperti roda, ada as dan jerujinya. Ada beberapa maskapai yang melayani bandara utama yang diibaratkan asnya. Dan ada maskapai yang hanya melayani bandara domestik yang bukan bandara utama sebagai jerujinya. Dengan demikian semua dapat bagian sesuai dengan kemampuan armadanya."Harus adil. Jadi rute bukan dilihat penggal per penggal tapi dilihat sebagai networking. Pola ini efektif dan efisien," kata Budhi. Sebagai contoh, di regional ASEAN, sudah ada maskapai-maskapai yang bergabung membentuk kelompok raksasa. Perusahaan yang sudah bersinergi seperti Malaysia Airline dan Singapore Airline. Sementara di wilayah lain, seperti Eropa, ada kelompok raksasa yang sudah bersinergi yaitu Air France dan KLM."Kita mau berkompetisi dengan mereka yang kelompok raksasa itu? Tidak akan mungkin, tidak akan kuat, selama satu sama lain saling terbatas, harus ada gerakan penggabungan tadi," tuturnya.Gerakan merger tersebut, menurut Budhi, membutuhkan tingkat keselamatan, keamanan, pelayanan, dan kelaikan yang sama. "Mengapa di dunia luar muncul aliansi, karena mereka sudah punya standar pelayanan yang sama. Safety identik, excellent rata-rata. Begitu juga dengan tingkat kesehatan perusahaan," kata Budhi.Supaya maskapai di Indonesia punya standar yang sama dalam segala hal, maka Budhi mengatakan bahwa regulasi harus ditaati, penegakan hukum juga harus berjalan. Regulasi tetap berpedoman pada keselamatan dan keamanan, hingga perlahan meningkat kepada pelayanan publik, dan pelaksanaan kelaikan udara. Jika standar semua maskapai sudah sama, maka penggabungan akan lebih mudah. "Kalau kita diam dan tidak berbenah, industri penerbangan domestik hancur! Di internasional bergabung untuk menjadi besar, kita malah terpecah. Bagaimana kita mau bicara open sky?" pungkasnya.
(nwk/asy)










































