Berteman Radio, Ajeng 'Marfan's Syndrom' Kian Cerdas
Selasa, 03 Apr 2007 14:38 WIB
Surabaya - Perjuangan Ny.Wijayaning Wahjuni atau yang akrab dipanggil Ny.Yuni merawat anaknya yang mengalami marfan's syndrom patut diacungi dua jempol. Meski ditinggal suami, dia tetap berjuang untuk kesembuhan buah hatinya itu.Anak bungsunya dari sembilan bersaudara, Ajeng, terlahir sebagai bayi normal dengan bobot 4,8 kg dan tinggi 57 cm. Bagi seorang ibu, kelahiran bayi merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Apalagi bila sang bayi kemudian tumbuh dan berkembang sebagai balita yang cerdas. Itulah yang dialami dan dirasakan Bu Yuni (51). Putrinya yang diberi nama Wahyu Ajeng Suminar itu tumbuh sebagai balita dengan kecerdasan di atas rata-rata. Di usia balita dan belum mengenal bangku sekolah, Ajeng ternyata sudah bisa membaca. Dengan kemampuan yang dimiliki itu, Ajeng bisa menyerap pengetahuan sebagaimana anak SD lainnya. Buku-buku milik kakaknya dan majalah yang dijumpai, dilalapnya. Bahkan ia bisa menceritakan kembali dengan runtut apa yang telah dibacanya. "Pertumbuhannya melebihi anak normal. Usia 3 bulan giginya sudah keluar. Kelebihan lain dari Ajeng tubuhnya sangat elastis. Saya tidak menangkap hal itu sebagai suatu gejala yang tidak normal. Saya hanya menganggap hal itu sebagai kelebihan Ajeng," katanya kepada detikcom sembari menunggui Ajeng yang dirawat di ICU RS AL Surabaya, Selasa (3/4/2007). Tapi kebanggaan berubah duka ketika dokter memvonis Ajeng terkena marfan's syndrome (pembesaran pembuluh darah di jantung). Dari penjelasan dokter, Ajeng akan menderita kebutaan. Hal ini ditandai dengan kemunduran penglihatannya. Sehingga jika membaca, jarak antara buku dan mata hanya 3 cm. Padahal Ajeng suka membaca dan menulis walaupun saat itu usianya baru 6 tahun. Tentu saja fakta ini membuat syok ibunya. Tidak hanya penglihatan yang diserang marfan' syndrome, kondisi fisik Ajeng juga semakin melemah. Bahkan ia sangat kurus karena tubuhnya gagal membentuk lemak. Dengan kondisi demikian, tidak ada sekolah yang bisa menerimanya. Akhirnya atas saran dokter, Ajeng disekolahkan di Yayasan Pendidikan Anak Buta. "Ajeng nampak sangat menikmati sekali karena bisa sekolah dan banyak teman. Tapi setelah berjalan 3 bulan kondisi fisiknya mulai menurun. Bahkan dalam satu bulan sampai opname 2 kali. Akhirnya disarankan untuk tidak sekolah," jelas Bu Yuni.Kendati tidak sekolah, tapi Ajeng mendapat berbagai bacaan untuk memenuhi hobinya. Dan teman setianya adalah radio yang menyiarkan berbagai informasi. Hal inilah yang ternyata semakin meningkatkan pengetahuan umum Ajeng. Tak mengherankan dalam usia anak SD, Ajeng mempunyai pengetahuan umum di atas rata-rata anak normal meski tidak sempat menikmati bangku sekolah.
(fat/nrl)











































