Berebut US$ 30 M di Konferensi Perubahan Iklim di Bali

Berebut US$ 30 M di Konferensi Perubahan Iklim di Bali

- detikNews
Senin, 02 Apr 2007 20:17 WIB
Jakarta - Pemasan global paling ditakuti. Mencegah bencana perubahan iklim itu, sejumlah negara maju berkomitmen menghibahkan dana sebesar US$ 30 miliar untuk mempertahankan keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia.Dana yang cair bertahap mulai sepuluh tahun mendatang itu menjadi incaran negara-negara berkembang yang punya wilayah hutan luas. Pertemuan internasional akan digelar di Bali untuk 'mengatur' alokasi pemanfaatannya."Ini akan menjadi ajang negosiasi negara-negara maju dan bekembang, bagaimana cara hentikan pemanasan global. Kalau tidak ada kesepakatan, maka tidak akan terjadi apa-apa, dan dunia akan karam," kata Meneg Lingkungan Hidup Rachmat Witolear di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (2/4/2007).Rencananya ajang yang digagas UNCCC (United Nations for Convention on Climate Change) ini akan berlangsung tanggal 3-12 Desember 2007. Sebanyak sepuluh ribu orang dari kalangan pemerintah dan LSM berbagai dunia akan menghadiri ajang yang amat vital ini."Bali jadi tuan rumah. Penunjukan ini karena kita dinilai oleh dunia serius dalam tangani hutan-hutannya," sambung Witoelar.Dalam kegiatan bertajuk 'International Climate Change' itu, pemerintah RI menjagokan program-program penghutanan kembali 55 juta hektar lahan gundul. Maklum saja proyek yang rencananya akan tuntas paling tidak 25 tahun mendatang itu menelan biaya sampai Rp 8 triliun per tahun."Proyek mekanisme pembangunan hutan dapat dijadikan ajang penerima dana itu. Kalau kita tidak melakukan persiapan untuk itu, maka uang itu akan lewat," ujarnya.Sebagai persiapan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan pembentukan tim yang terdiri dari para tokoh lingkungan hidup dalam negeri. Keberadaan mereka penting terkait akan terjadi negosiasi antara pemerintahan dengan kebijakan dunia dan nasional yang perlu diambil.Tak kalah penting adalah mencegah kembali terulangnya musibah kebakaran hutan yang kerap terjadi mulai Agustus sampai Desember. Seperti diketahui kabut asap yang dihasilkan, dua tahun terakhir menjadi bahan kecaman negara-negara tetangga. "Jangan sampai itu terjadi menjelang dan selama konferensi. Malu kita," imbuh Witoelar. (lh/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads