9 Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bukan Orang Baru
Senin, 02 Apr 2007 14:28 WIB
Jakarta - Rencananya pemerintah akan mengumumkan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPP) dalam waktu dekat. DPP akan diisi oleh sembilan orang. Mayoritas anggota DPP bukanlah orang baru. Informasi yang didapatkan detikcom dari Istana, Senin (2/4/2007), SK untuk kesembilan orang tersebut sudah ditandatangani Presiden SBY 26 Maret 2007 lalu. "Bahkan, SK-nya sudah diperlihatkan kepada mereka," kata sumber di Istana. Kesembilan anggota DPP itu adalah Ali Alatas, Adnan Buyung Nasution, Emil Salim, Subur Budhisantoso, TB Silalahi, Rachmawati Soekarnoputri, Sjahrir, Ma'ruf Amin, dan Radi A Gany (sebelumnya tertulis Abdul Gani Ilahude-Red). Sebelum diterbitkan SK, kesembilan orang ini telah dipanggil Presiden dan menyatakan bersedia untuk menjadi anggota yang bertugas memberikan nasihat kepada Presiden. Ali Alatas selama ini sudah sering diminta menjadi penasihat untuk urusan kebijakan luar negeri. Emil Salim juga sudah sering diminta nasihat oleh Presiden SBY mengenai ekonomi dan pembangunan, termasuk lingkungan. TB Silalahi juga telah menjadi penasihat Presiden untuk menangani bencana, terutama saat gempa Nias beberapa waktu lalu. Silalahi juga akan diminta untuk memberikan pertimbangan dalam bidang pertahanan dan keamanan, serta masalah dalam negeri. Sjahrir juga sudah sering bertemu Presiden untuk diminta nasihatnya dalam bidang ekonomi. Begitu dengan Rachmawati Soekarnoputri, sudah sering dipanggil ke Istana. Adnan Buyung Nasution, tokoh YLHBI, juga sudah beberapa kali bertemu Presiden untuk diminta nasihatnya dalam bidang hukum. Subur Budhisantoso merupakan mantan ketua umum DPP Partai Demokrat. Nama Subur sudah diisukan sejak lama akan diangkat sebagai penasihat presiden setelah melepas jabatan ketua umum DPP PD. Subur akan bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam bidang budaya. Ma'ruf Amin yang kini menjadi Ketua MUI juga sudah sering bertemu Presiden. Ma'ruf juga sudah sering memberikan saran mengenai keumatan dan keberagamaan. Sementara Radi A Gany, mantan Rektor Unhas menjadi penasihat di bidang pertanian.
(asy/nrl)










































