Pembatasan Benda Cair di Pesawat, Obat Gosok Boleh Tidak?
Senin, 02 Apr 2007 11:16 WIB
Jakarta - Aturan pembatasan liquid, aerosol dan gel (LAG) mulai berlaku 31 Maret lalu. Kebijakan ini pun menjadi topik perbincangan para penumpang di bandara Soekarno-Hatta. Tak terkecuali para lansia yang akan ziarah rohani ke Jerusalem."Kalau obat gosok ini boleh tidak ya dibawa ke pesawat?" tanya peserta ziarah, Maria Theresia, sambil mengacungkan obat gosok 400 ml dalam botol. Hal itu ditanyakan Maria kepada petugas bandara yang sedang melintas di ruang transit Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Senin (2/4/2007)."Ya kalau banyak harus masuk bagasi, Bu," jawab si petugas sambil berlalu.Obat gosok itu sengaja dibawa Maria untuk persiapan perjalanan ke Jerusalem. Sebab pengalaman 2003 lalu, akibat duduk terlalu lama di pesawat, para peserta yang kebanyakan lansia itu merasa pegal-pegal. Dan obat gosoklah yang jadi andalan untuk menghilangkan pegal-pegal dan kesemutan."Padahal ini penting, lha wong yang mau jalan orang tua. Apa dimasukkan ke dalam kaus kaki saja ya, konangan (ketahuan) tidak ya," kata Maria sambil mengamat-amati obak gosoknya."Dikurangi saja isinya, nanti semua digosoki minyak itu badannya," timpal temannya yang sama-sama berangkat dari Surabaya, Marcelina Sudianto.Kepada detikcom, Maria mengaku belum ada pemberitahuan tentang pembatasan LAG dalam pesawat. "Tadi di Surabaya saja lolos, kok di sini tidak boleh," cetus Maria.Perempuan 72 tahun itu mengatakan obat gosok yang dibawanya itu sangat mujarab. Sebab pegal-pegal bisa langsung hilang setelah digosok minyak itu. "Ini susah dapatnya, Mas. Di Surabaya saja sulit, apalagi di Jerusalem," imbuhnya.Rupanya masih banyak penumpang yang tidak tahu aturan pembatasan LAG di pesawat mulai 31 Maret lalu. Maksimal cairan yang boleh dibawa penumpang maksimal satu liter, bila lebih harus dimasukkan ke bagasi.
(nvt/nrl)











































