Rumah BRR NAD-Nias 2005 (1)
Buruk Rumah, Anggaran Dibelah
Jumat, 30 Mar 2007 11:06 WIB
Banda Aceh -
Rumah-rumah bantuan yang diberikan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias kepada para korban tsunami pada tahun 2005 masih menyisakan masalah. Sebab kualitas rumah yang rendah itu belum bisa diperbaiki, karena masih menunggu proses hukum yang tengah berjalan. Jika langsung diperbaiki, disebutkan akan menghilangkan barang bukti. Kendati demikian, BRR NAD-Nias berjanji akan memperbaiki rumah-rumah yang dibangun dengan menggunakan anggaran 2005 itu. Menurut Ketua Bapel BRR NAD-NIAS, Kuntoro Mangkusubroto, buruknya kualitas rumah bantuan yang diberikan tahun 2005 itu, karena anggaran yang dipersiapkan untuk rumah-rumah tersebut sangat minim, sekitar Rp 28 juta untuk satu unit tipe 36.Diperparah lagi, pada Oktober 2005 terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak yang kemudian menyebabkan inflasi dan mahalnya harga material bangunan."Itu di luar perhitungan karena saat itu kontrak sudah dibuat. Tapi kemudian dilakukan penyesuaian, tapi tidak bisa memenuhi spesifikasi yang kita inginkan," terang Direktur Komunikasi BRR NAD-Nias, Rufriadi pada detikcom, Jumat (30/03/2007) mengutip keterangan dari Direktur Perencanaan dan Pemrograman Perumahan dan Permukiman BRR NAD-Nias, Wisnubroto.Menurut dia, persoalan perumahan 2005 ini sangat kompleks, karena dihadapkan pada dua sisi, hukum dan hak korban tsunami atas rumah. "Kita sedang mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ini," jelasnya.Pada 2005, BRR NAD-Nias membangun 3.451 unit rumah yang pembangunannya dikelola oleh Dinas Permukiman Provinsi Aceh. Dinas mengelola proyek ini mulai dari desain hingga proses tender."Tapi kita tidak salahkan Dinas. Dari pengusutan yang sedang dilakukan, akan diketahui siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap rendahnya kualitas rumah tersebut," katanya.Langkah pertama yang akan dilakukan BRR NAD-Nias dalam hal ini menurutnya dengan menyiapkan tim pendamping untuk mendata rumah-rumah yang kualitasnya jelek. "Bulan Mei ini kalau semuanya lancar, rumah-rumah itu akan diperbaiki," lanjut dia.Dalam proses perbaikan rumah-rumah ini, ada dua pendekatan yang memungkinkan untuk digunakan demi menyelesaikan masalah ini. Pertama, menggunakan pendekatan swakelola. Artinya, warga diminta untuk mendata kebutuhan untuk memperbaiki rumahnya. Sementara pendekatan kedua, yaitu dengan menggunakan jasa pihak ketiga. Namun menurutnya, pendekatan kedua ini tidak disukai warga, karena takut akan bermasalah lagi.Buruknya kualitas rumah bantuan yang diberikan BRR NAD-Nias bukan cerita baru. Bahkan, bantuan rumah yang diberikan pada tahun 2005 itu hampir seluruhnya berkualitas rendah. Sudah banyak laporan masyarakat yang menyebutkan rumah bantuan yang mereka terima dari BRR tak memenuhi standart. Tak hanya berdasarkan laporan, BPK juga sudah melakukan audit terhadap sejumlah rumah bantuan pada akhir 2006 lalu.Mulai dari kusen jendela dan pintu yang mutunya rendah, sampai lantai yang sudah retak-retak bahkan amblas sebelum dimasuki penghuninya. Seperti kasus rumah bantuan BRR di kawasan Desa Mon Singet, Kahju, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.Penanganan rumah bantuan kualitas rendah ini terbilang lambat. Seharusnya, BRR NAD-Nias cepat tangap ketika ada laporan-laporan dari masyarakat. Apalagi jika dipadankan dengan jumlah tenaga dan gaji besar yang disiapkan BRR NAD-Nias.
(ray/djo)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
