Saat Buruh Perempuan Melawan

Saat Buruh Perempuan Melawan

- detikNews
Kamis, 29 Mar 2007 19:27 WIB
Jakarta - Irma Lusiani (24) hanya bisa menahan lelah. Ibu muda yang sedang hamil tujuh bulan itu tidak kuasa menolak ketika harus lembur bekerja di salah satu pabrik garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda, Jakarta Utara. Hingga tengah malam mendekati pukul 23.00, tangan kecilnya masih mengait kancing baju di sebelah mesin jahit di pabrik tempat ia bekerja."Saya sudah bekerja disini sejak lima tahun lalu. Saya tidak ada pilihan lain. Nyari pekerjaan susah," keluh Irma sambil menahan derita di pelupuk mata yang sembab menahan sedih, di depan pabrik tempat ia beraktifitas sehari-hari, KBN Marunda, Kamis, (29/3/2207).Tak dapat dipungkiri, Irma terbilang letih. Ia mulai bekerja dari jam 08.00 pagi hingga pukul 16.00 WIB. Dengan perut tengah bunting besar, ia harus bekerja ekstra keras. Bahkan waktu istirahat yakni pukul 10.00 WIB dan 15.00 WIB selama 15 menit dan pukul 12.00 WIB selama 30 menit, seringkali terlewatkan karena mengejar target order perusahaan. Hal itu diperparah dengan jam lembur hingga pukul 21.00 WIb atau 23.00 WIB tergantung order pekerjaan."Capek mas. Seringkali dicaci dan dimaki sama supervisor. Bahkan sempat beberapa kali dicubit dan dipukul punggung saya. Teman-teman hanya bisa ngeliatin, nggak berani membela apalagi melawan," seru Irma yang tinggal di Jl Cilincing Bakti 6 RT 8/6, No. 24 Cilincing Jakarta Utara.Namun, seperti pepatah bilang, semut pun akan melawan bila diinjak. Irma bersama 634 temannya yang sebagian besar perempuan, berusaha melepas kegetiran yang tengah dialami. Ratusan buruh itu berkumpul dan menyuarakan penderitaan mereka. Sayang, tampaknya masih menohok dinding besar yang sulit ditembus. "Kami sudah ke pihak perusahaan, katanya suruh ke Disnakertrans terlebih dahulu untuk mendapatkan Nota Penetapan Upah. Sesampaianya di Disnakertrans Jakarta Utara, disuruh balik ke perusahaan untuk mendapatkan surat pengantar," sela Etty O. Masnawaty, salah satu koordinator aksi pada kesemptan yang sama.Menurut Etty, ia bersama 634 temannya, hanya meminta kesejahteraan yang lebih baik, perlakuan perusahaan yang lebih manusiawi, dan dihapuskannya denda keterlambatan. "Kami akan menginap dan menduduki pabrik hingga tuntutan kami dipenuhi," seru Etty mencoba melawan.Ya, Irma, Etty dan ratusan buruh perempuan itu hanya berusaha bicara atas nasib mereka. Nasib sebagai manusia yang ditakdirkan untuk selalu ikhtiar dan berusaha. Tidak hanya tunduk terdiam mendapat perlakuan semena-mena. (Ari/mar)


Berita Terkait