Citra Jamu Terancam Gara-gara Pelangsing Maut
Kamis, 29 Mar 2007 18:41 WIB
Semarang - Ana dan Aji asal Turi, Sleman, tewas karena meminum ramuan pelangsing, Selasa (27/3) lalu. Kejadian itu dikhawatirkan menurunkan citra positif jamu."Itu pasti, Mas. Masyarakat kan jadi mikir kalau mengonsumsi jamu. Citra jamu bisa turun karena kejadian itu," kata seorang pengusaha jamu, Stefanus Handoyo S, di kantornya, Jl. Dr Cipto Semarang, Kamis (29/3/2007).Lelaki yang 20 tahun belakangan memimpin pabrik jamu kualitas ekspor itu menyatakan, selama ini masyarakat terlanjur percaya bahwa jamu adalah obat penyembuh instan. Padahal faktanya tidak seperti itu.Stefanus menambahkan, jamu merupakan ramuan yang khasiatnya bisa dirasakan dalam waktu yang agak lama. "Bukan minum, terus langsung penyakitnya hilang. Jamu itu kan untuk kesehatan dan perawatan," jelasnya.Lebih jauh, lelaki kelahiran Kartosuro, Sukoharjo itu menandaskan, budaya konsumen yang serba instan sangat berpengaruh pada pilihan produk. Jika konsumen ingin cepat sembuh, biasanya mereka mencari obat yang 'keras' dan kandungan zat tinggi. Namun hal itu bisa jadi bumerang."Makanya, selain mengampanyekan higienitas dan kualitas jamu, kita harus menjelaskan ke masyarakat bahwa kesehatan itu tidak diraih dengan cara yang serba instan. Semua butuh proses," ujarnya.Mengenai standarisasi kualitas jamu, Stefanus menyatakan, bagi produsen yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Jateng, hal itu tidak masalah. Namun ternyata hingga kini masih ada produsen yang bergerak sendiri.Berdasarkan data Depkes 4 Desember 2006, dari 93 produk tradisional, 5 diantaranya termasuk kategori berbahaya. Ke-5 produk itu merupakan anggota GP Jamu."Anggota GP Jamu saja ada yang produknya berbahaya, apalagi produk yang tak dicek BPOM maupun Depkes. Untuk anggota yang produknya dinyatakan berbahaya, kami sudah bina dan sekarang sudah baik," aku Stefanus.
(djo/djo)











































